KEMANA PETANI-SEDANG HARUS PERGI? KE PEMILIK HARTA, ATAU KAUM TAK BERPUNYA?

Diposting oleh poentjak harapan on Sabtu, 24 Maret 2012

           
         Semua pemilik harta, seluruh burjuasi, berusaha menarik petani-sedang ke pihak mereka dengan menjanjikan kepadanya dengan segala macam tindakan untuk memperbaiki usaha pertaniannya (bajak-bajak yang murah, bank-bank tani, dilakukannya penanaman rumput, penjualan ternak dan rabuk dengan murah, dan sebagainya), dan juga dengan membuat petani menjadi anggota bermacam-macam perkumpulan pertanian (koperasi-koperasi, sebagaimana itu dinamakan di dalam buku-buku), perkumpulan-perkumpulan yang mempersatukan segala macam majikan dengan tujuan memperbaiki pengusahaan-pertanian. Dengan jalan begini burjuasi berusaha mencegak petani-sedang dan bahkan petani-kecil, setengah proletar mengadakan persatuan dengan kaum buruh, dan berusaha membujuk mereka supaya memihak kaum kaya, memihak burjuasi, dalam perjuangannya menentang kaum buruh, menentang proletariat.
          Terhadap ini kaum buruh Sosial-Demokrat menjawab: memperbaiki pengusahaan-pertanian adalah suatu hal yang baik. Sama sekali tak ada sesuatu yang jelek kalau orang membeli bajak-bajak dengan lebih murah; dewasa ini sebarang saudagarpun, yang tidak tolol, berusaha menjual dengan murah untuk menarik para pembeli. Tetapi apabila kepada seorang petani-miskin atau petani-sedang dikatakan bahwa diperbaikinya pengusahaan-pertanian dan dimurahkannya bajak-bajak itu akan menolong semua mereka untuk memanjat keluar dari kemiskinan dan berdiri di atas kaki mereka sendiri, dengan samasekali tiada menyinggung orang-orang kaya, ini adalah suatu penipuan. Semua perbaikan ini, harga-harga yang lebih rendah dan koperasi-koperasi (perkumpulan-perkumpulan untuk penjualan serta pembelian barang-barang) jauh lebih menguntungkan kaum kaya. Kaum kaya menjadi makin kuat dan makin mendesak petani-petani miskin serta petani-petani sedang. Selama kaum kaya tetap kaya, selama mereka memegang dalam tangannya sebagian besar tanah, perkakas dan uang – selama ini tetap demikian, maka bukan saja petani-petani miskin, tetapi petani-petani-sedangpun tak akan pernah dapat meloloskan diri kekurangan. Satu atau dua muzyik-sedang mungkin menyelinap ke barisan kaum kaya dengan bantuan segala perbaikan dan koperasi ini, tetapi Rakyat dalam keseluruhannya, dan semua petani sedang, akan kian lama kian dalam tenggelam di dalam kemiskinan. Agar supaya semua muzyik-sedang dapat menjadi kaya, maka kaum kaya itu sendiri harus ditiadakan, dan mereka dapat ditiadakan hanya jika kaum buruh kota dan kaum miskin desa bersatu.
             Berkata burjuasi kepada petani sedang (dan bahkan kepada petani kecil): kami akan menjual tanah kepadamu dengan harga rendah, dan menjual bajak-bajak dengan harga rendah pula, tetapi sebagai balasannya kamu harus menjual jiwamu kepada kami, kamu harus menolak perjuangan menentang semua kaum kaya.
           Buruh Sosial-Demokrat berkata: jika kamu betul-betul ditawari barang-barang dengan harga rendah, mengapa barang-barang itu tidak kamu beli, jika padamu ada uang; itu adalah urusan dagang. Tetapi jangan sekali-kali menjual jiwamu. Menolak perjuangan dengan bersekutu dengan kuam buruh kota menentang seluruh burjuasi akan berarti tetap berada di dalam kemiskinan dan kekurangan selama-lamanya. Jika barang-barang menjadi lebih murah kaum kaya akan lebih beruntung lagi dan menjadi lebih kaya. Tetapi mereka yang tidak mempunyai uang simpanan tak akan ditolong dengan pemurahan barang-barang apa saja sebelum mereka merebut uang itu dari burjuasi.
          Marilah kita ambil suatu contoh. Mereka yang menyokong burjuasi membuat banyak ribut tentang segala macam koperasi (perkumpulan-perkumpulan untuk membeli murah dan menjual dengan laba). Bahkan ada orang-orang yang menamakan dirinya kaum “Sosialis-Revolusioner”, yang membeo burjuasi, juga meneriakkan bahwa yang terutama dibutuhkan petani yalah koperasi-koperasi. Segala macam koperasi sedang mulai dipraktekkan di Rusia juga, tetapi jumlahnya masih sedikit sekali di sini, dan tak akan banyak jumlahnya sebelum kita mempunyai kebebasan politik. Sedangkan di Jerman petani-petani mempunyai sangat banyak koperasi dari segala macam. Tetapi lihatlah siapa yang paling beruntung dari koperasi-koperasi ini. Di seluruh Jerman, 140.000 pengusaha-pertanian masuk menjadi anggota perkumpulan-perkumpulan untuk penjualan susu dan barang-barang dari susu, dan 140.000 pengusaha-pengusaha pertanian ini (untuk penyederhanaan kita sekali lagi ambil angka-angka bulat) memiliki 1.100.000 ekor sapi. Ditaksir bahwa di seluruh Jerman terdapat empat juta petani miskin. Dari jumlah ini, hanya 40.000 saja yang masuk koperasi-koperasi: jadi hanya satu dari setiap seratus petani-miskin menikmati manfaat dari koperasi-koperasi ini.  40.000 petani-miskin ini memiliki hanya 100.000 ekor sapi. Selanjutnya, pengusaha-pengusaha pertanian-sedang, petani-petani-sedang, berjumlah satu juta; dari jumlah ini, 50.000 menjadi anggota koperasi-koperasi (artinya lima dari setiap seratus) dan mereka memiliki 200.000 ekor sapi. Akhirnya, pengusaha-pengusaha pertanian kaya (yaitu, kaum tuan tanah dan kaum tani-kaya disatukan) berjumlah sepertiga juta; dari jumlah ini, 500.000 menjadi anggota koperasi-koperasi (artinya, tujuh belas orang dari setiap seratus) dan mereka memiliki 800.000 ekor sapi!
            Orang-orang itulah yang pertama-tama dan terutama dibantu oleh koperasi-koperasi. Begitulah caranya petani dikelabui matanya oleh orang-orang yang bergembar-gembor tentang menyelamatkan petani-sedang dengan jalan segala macam perkumpulan untuk membeli murah dan menjual dengan laba yang sedemikian itu. Terlalu murah sekali burjuasi hendak “menebus” petani dari kaum Sosial-Demokrat yang menyerukan baik kepada petani-miskin maupun petani-sedang supaya menggabungkan diri dengan mereka.
             Juga di negeri kita berbagai-bagai koperasi perusahaan keju dan perusahaan pengumpulan susu mulai dibentuk. Juga di negeri kita terdapat banyak sekali orang-orang yang bergembar-gembor: artel-artel, persatuan komune desa dan koperasi-koperasi – itulah yang diperlukan muzyik. Tatapi lihatlah siapa yang beruntung dari artel-artel, koperasi-koperasi dan penyewaan oleh komune. Dari tiap seratus keluarga di negeri kita, sekurang-kurangnya duapuluh tidak mempunyai sapi sama sekali; tigapuluh keluarga hanya mempunyai satu ekor sapi masing-masing: mereka ini menjual susu karena kekurangan yang amat sangat, anak-anak mereka sendiri harus tanpa minum susu, mereka kelaparan dan mati sebagai lalat. Akan tetapi petani-petani-kaya masing-masing mempunyai sapi tiga, empat ekor dan lebih, dan petani-petani kaya ini memiliki separuh dari seluruh jumlah sapi yang dimiliki petani-petani.  Jadi siapakah beruntung dari koperasi perusahaan keju itu? Jelaslah sama sekali, tuan tanah-tuan tanah dan burjuasi-tanilah yang pertama-tama beruntung. Jelaslah sama sekali, menguntungkan merekalah jika petani-petani-sedang dan kaum miskin condong pada mereka dan jika mereka percaya bahwa  jalan untuk lolos dari kekurangan itu bukanlah perjuangan dari seluruh kaum buruh menentang seluruh burjuasi, melainkan usaha pengusaha-pengusaha pertanian kecil seorang-seorang untuk memanjat keluar dari posisi mereka yang sekarang ini dan menyelinap kebarisan kaum kaya.
                Usaha ini dipupuk serta didorong dengan segala nada oleh semua pembela burjuasi yang berlaku pura-pra sebagai pembela-pembela dan sahabat-sahabat petani-kecil. Dan banyak orang yang naif tidak mengenal serigala yang berbulu kambing, dan mengulangi penipuan burjuis ini dengan kepercayaan bahwa mereka membantu petani-petani-miskin dan sedang. Misalnya, dalam buku-buku dan dalam pidato-pidato mereka mendalilkan seolah-olah pengusahaan pertanian kecil-kecilan adalah yang paling berfaedah, yang paling menguntungkan, seolah-olah pengusahaan pertanian kecil-kecilan sedang tumbuh subur, dan itulah sebabnya maka, kata mereka, dalam pertanian di mana-mana terdapat begitu banyak pengusaha-pengusaha kecil-kecilan, dan itulah sebabnya maka, katanya, mereka berpegang dengan begitu teguhnya pada tanah mereka (dan bukan karena semua tanah yang terbaik sudah diduduki oleh burjuasi, dan semua uang juga dalam tangan mereka, sedang kaum miskin harus hidup seumur hidupnya terkurung dan memeras keringatnya di atas kepingan-kepingan tanah yang kecil sekali!). Petani-kecil tidak banyak memerlukan uang, kata orang-orang yang bermulut manis ini; petani-kecil dan petani-sedang itu lebih hemat dan lebih rajin daripada pengusaha-pertanian besar, dan tambahan pula pandai hidup lebih sederhana: daripada membeli kekurangan rumput kering untuk ternaknya, dia cukup puas dengan memberi ternaknya makan jerami. Daripada membeli mesin yang mahal, dia bangun lebih pagi dan membanting tulang lebih lama dan mengerjakan sebanyak yang dikerjakan oleh mesin itu; daripada memboroskan uang pada orang lain untuk mengerjakan suatu reparasi, petani itu sendiri mengambil kapak pada suatu hari pesta dan bekerja sebentar sebagai seorang tukang kayu — dan ini jauh lebih murah daripada cara yang dijalankan oleh seorang pengusaha-pertanian-besar; daripada memelihara kuda atau lembu jantan yang mahal, dia memakai sapi perahannya untuk membajak. Di Jerman semua petani miskin membajak dengan sapi perahan, dan di negeri kita juga Rakyat telah menjadi begitu miskin sehingga mereka untuk membajak mulai memakai tidak saja sapi perahan, tetapi bahkan laki-laki dan wanita! Dan betapa menguntungkannya! Betapa murahnya semua ini! Betapa patut dipujinya petani-sedang dan petani-kecil yang begitu getol, begitu rajin, hidup begitu sederhana, tidak membuang-buang waktu mereka untuk yang bukan-bukan, tidak memikirkan Sosialisme, tetapi hanya memikirkan usaha-usaha pertanian mereka! Tidak condong kepada kaum buruh yang mengorganisasi pemogokan-pemogokan menentang burjuasi, tetapi mengikuti kaum kaya, dan berikhtiar untuk menjadi orang-orang yang patut dihormati! Nah, andaikata semuanya begitu getol, begitu rajin, dan hidup sederhana, tidak terus minum minuman keras, menyimpan uang lebih banyak, dan lebih sedikit mengeluarkan uang untuk membeli kain katun macam-macam dan beranak lebih sedikit – maka kiranya akan berbahagialah semua dan tak akan ada kemiskinan serta kekurangan apapun juga!
             Demikian lagu-lagu merdu yang dinyanyikan oleh burjuasi kepada petani sedang dan ada orang-orang naif yang mempercayai lagu-lagu ini serta mengulanginya sendiri! [*10] Sebenarnya segala omongan yang bermadu itu tidak lain dan tidak bukan adalah penipuan serta olok-olok terhadap petani. Apa yang dinamakan pengusahaan-pertanian yang murah dan menguntungkan oleh orang-orang yang bermulut manis ini ialah kekurangan, kekurangan yang pahit, yang memaksa petani sedang dan petani kecil bekerja dari pagi sampai malam, menghitung-hitung setiap potong roti, menghitung-hitung setiap peser yang dia keluarkan. Tentu saja apa yang dapat lebih “murah” dan “lebih menguntungkan”  daripada memakai celana itu-itu juga selama tiga tahun, pergi kemana-mana dengan kaki telanjang di musim panas, membetulkan bajak kayu dengan seutas tali den memberi makan sapi dengan jerami busuk dari atap! Taruhlah sebarang orang burjuis atau sebarang orang petani-kaya di usaha-pertanian yang “murah” dan “menguntungkan” sedemikian itu, maka dia kiranya akan lekas lupa pada segala omongan yang bermadu itu!
             Orang-orang yang menyanjung-nyanjung pengusahaan-pertanian kecil-kecilan itu kadang-kadang ingin menolong petani, tetapi sebenarnya mereka hanya merugikan dia saja. Dengan kata-kata yang bermadu itu mereka menipu muzyik sama seperti Rakyat ditipu oleh lotere. Akan saya ceriterakan apa itu lotere. Marilah kita misalkan bahwa saya mempunyai seekor sapi, yang berharga 50 Rubel. Saya hendak menjual sapi itu dengan jalan lotere, maka itu kepada setiap orang saya tawarkan surat undian yang masing-masing berharga satu Rubel. Ada kemungkinan dengan satu Rubel mendapat satu sapi itu! Orang-orang terbujuk, Rubel-Rubel membanjir masuk. Sesudah terkumpul seratus Rubel lotere terus saya tarik: orang yang nomornya tercabut mendapat sapi itu untuk satu Rubel, yang lain tidak mendapat apa-apa. “Murahkah” sapi itu bagi orang-orang tersebut? Tidak, itu mahal sekali, sebab jumlah uang yang mereka bayar adalah dua kali nilai sapi itu, sebab dua orang (orang yang menyelenggarakan lotere dan yang memperoleh sapi) mendapat untung tanpa kerja apa-apa, dan dalam pada itu beruntung atas kerugiannya 99 orang yang kehilangan uang mereka. Jadi, orang-orang yang mengatakan bahwa lotere menguntungkan Rakyat adalah semata-mata menipu Rakyat. Mereka yang menjanjikan akan melepaskan petani dari kemiskinan serta kesengsaraan dengan jalan berbagai macam koperasi (perkumpulan-perkumpulan untuk membeli murah dan menjual dengan berlaba), berbagai macam perbaikan pengusahaan-pertanian, berbagai macam bank-bank dan segala macam hal begituan adalah menipu kaum tani persis seperti itu. Persis seperti di dalam lotere di mana terdapat satu orang yang beruntung dan selebihnya adalah orang-orang yang rugi, maka begitu pulalah dengan hal-hal ini: seorang petani-sedang cukup cerdik dan menjadi orang-orang kaya, sedangkan 99 orang sesama petani membongkokkan punggungnya seumur hidup mereka, tak pernah membebaskan dirinya dari kekurangan, dan malah menjadi semakin bangkrut.  Biar setiap penduduk desa memeriksa komunenya dan seluruh distriknya dengan satelit-satelitnya: banyakkah petani-petani sedang yang menjadi kaya dan lupa akan kekurangan? Dan berapa banyak yang seumur hidupnya tak pernah membebaskan diri dari kekurangan? Berapa banyak yang bangkrut dan meninggalkan desa mereka? Sebagaimana telah kita lihat, di seluruh Rusia ditaksir tidak lebih dari dua juta usaha pertanian petani-sedang. Andaikanlah ada segala macam perkumpulan untuk membeli murah dan menjual dengan laba yang jumlahnya sepuluh kali sebanyak yang sekarang. Apa akibatnya? Sebanyak-banyaknya seratus ribu petani-sedang berhasil menaikkan diri ketingkat kaum kaya. Apakah artinya ini? Ini berarti bahwa dari tiap seratus petani-sedang, lima akan menjadi kaya. Tetapi bagaimana dengan 95 lainnya? Mereka akan tetap dalam kesusahan seperti sedia kala, dan banyak di atara mereka akan merada dalam kesusahan-kesusahan yang lebih besar lagi! Dan kaum miskin akan lebih-lebih lagi bangkrutnya.
              Sudah barang tentu, burjuasi  menghendaki  justru  supaya  sebesar  mungkin  jumlah  petani-petani-miskin  dan sedang akan condong pada kaum kaya, supaya mereka percaya pada kemungkinan meloloskan diri dari kemiskinan tanpa berjuang melawan burjuasi, supaya mereka menaruh harapan-harapan pada kerajinan mereka serta kecermatannya yang rakus, pada kemungkinan memperkaya diri dan bukan pada bersatu dengan kaum buruh desa dan kota. Burjuasi berdaya upaya sekuat tenaga untuk memupuk kepercayaan dan harapan yang bersifat khayalan ini pada muzyik dan berusaha meninabobokkannya dengan segala macam kata yang bermadu.
             Untuk menelanjangi penipuan yang dilakukan oleh semua orang yang bermulut manis ini cukuplah dengan mengajukan tiga pertanyaa kepada mereka.
           Pertanyaan petama. Dapatkah Rakyat pekerja membebaskan diri dari kekurangan dan kemiskinan, apabila di Rusia seratus juta desiatina dari 240 juta desiatina tanah yang dapat dikerjakan dimiliki oleh pemilik-pemiliktanah perseorangan? Apabila enambelas ribu pemilik tanah yang paling besar memiliki tanah enampuluh lima juta desiatina?
          Pertanyaan kedua. Dapatkah Rakyat pekerja membebaskan diri dari kekurangan serta kemiskinan, apabila satu setengah juta keluarga petani-kaya (dari jumlah sepuluh juta seluruhnya) telah memusatkan dalam tangan mereka separuh dari seluruh tanah garapan petani, separuh dari seluruh jumlah kuda dan seluruh jumlah ternak yang dimiliki petani-petani, dan jauh lebih banyak daripada separuh dari seluruh persediaan serta uang simpanan petani? Apabila kaum burjuasi tani ini kian lama kian bertambah kaya, mendesak petani-petani miskin dan petani-petani sedang, memperkaya dari atas kerja orang lain, buruh-buruh tani dan buruh-buruh tani harian? Apabila enam setangah juta keluarga kaum tani merupakan kaum miskin yang bangkrut, yang selalu menderita lapar, dan terpaksa mencari sepotong roti yang menyedihkan dengan segala macam kerja upahan?
           Pertanyaan ketiga. Dapatkah Rakyat pekerja membebaskan diri dari kekurangan serta kemiskinan apabila uang telah menjadi kekuatan yang utama, apabila segala-galanya dapat dibeli dengan uang – pabrik-pabrik dan tanah: dan bahkan manusia dapat dibeli untuk dipekerjakan sebagai pekerja-pekerja upahan, sebagai budak-budak upahan? Apabila tanpa uang orang tak dapat hidup atau menjalankan suatu usaha-pertanian? Apabila seorang pengusaha pertanian kecil, seorang petani miskin, harus melakukan perjuangan menentang pengusaha pertanian besar guna mendapat uang? Apabila beberapa ribu tuan tanah, saudagar, pemilik pabrik dan bankir telah memusatkan dalam tangan mereka ratusan juta Rubel, dan lebih daripada itu, menguasai semua bank, di mana tersimpan ribuan juta Rubel?
            Tak ada kata-kata yang bermadu mengenai keuntungan-keuntungan dari pengusahaan-pertanian kecil-kecilan, atau dari koperasi-koperasi akan memperkenankan orang mengelakkan pertanyaan-pertanyaan ini. Atas pertanyaan-petanyaan ini hanya mungkin  ada satu jawaban saja: “koperasi” sejati yang dapat menyelamatkan Rakyat pekerja yalah persekutuan kaum miskin desa dengan kaum buruh Sosial-Demokrat di kota-kota untuk melawan sleuruh burjuasi. Makin cepat persekutuan demikian tumbuh dan menjadi kuat, maka makin lekaslah petani-sedang menyadari seluruh kebohongan dari janji-janji burjuasi, dan makin lekas pula petani sedang itu datang ke pihak kita.
             Burjuasi tahu hal ini, dan itulah sebabnya, di samping kata-kata yang bermadu, mereka menyebarkan segala macam kebohongan tentang kaum Sosial-Demokrat. Mereka mengatakan bahwa kaum Sosial-Demokrat hendak merampas milik petani-petani- sedang dan petani-petani-kecil. Itu adalah bohong. Kaum Sosial-Demokrat hendak merampas hanya milik pemilik-pemilik besar saja, hanya milik mereka saja yang hidup atas orang lain. Kaum Sosial-Demokrat kapanpun tak akan pernah mengambil milik pengusaha-pengusaha pertanian kecil dan sedang yang tidak menyewa buruh. Kaum Sosial Demokrat membela serta mempertahankan kepentingan-kepentingan seluruh Rakyat pekerja, tidak saja kepentingan-kepentingan kaum buruh kota, yang lebih berkedaran klas dan lebih bersatu daripada  semua yang lain-lainnya, tetapi juga kepentingan-kepentingan kaum buruh desa, dan pula kepentingan-kepentingan tukang-tukang kecil serta petani-petani kalau mereka tidak menyewa buruh, tidak condong pada kaum kaya, dan tidak memihak burjuasi. Kaum Sosial-Demokrat berjuang untuk segala macam perbaikan dalam kehidupan kaum buruh dan petani, yang dapat dijalankan segera, sebelum kita menghancurkan kekuasaan burjuasi, dan yang meringankan perjuangan menentang burjuasi ini. Tetapi kaum Sosial-Demokrat tidak menipu petani, mereka mengatakan seluruh kebenaran kepadanya, mereka sebelumnya dan dengan terus terang mengatakan kepadanya bahwa tak ada perbaikan apapun  yang akan dapat membebaskan Rakyat dari kekurangan serta kemiskinan selama burjuasi berkuasa. Untuk memungkinkan seluruh Rakyat mengetahui itu kaum Sosial-Demokrat dan apa yang mereka kehendaki, kaum Sosial-Demokrat telah menyusun sebuah programnya [*11]. Program berarti suatu pernyataan singkat, terang dan tepat tentang segala hal yang diusahakan serta diperjuangkan oleh sebuah partai. Partai Sosial-Demokrat adalah satu-satunya Partai yang memajukan sebuah program yang terang serta tepat agar supaya seluruh Rakyat tahu dan memakluminya dan agar supaya ke dalam Partai hanya dapat masuk orang-orang yang benar-benar hendak berjuang untuk membebaskan seluruh Rakyat pekerja dari penindasan burjuasi, dan dalam pada itu orang-orang yang mengerti dengan tepat siapa yang harus bersatu untuk berjuang ini dan bagaimana seharusnya melakukan perjuangan itu. Selain itu, kaum Sosial-Demokrat berpendapat bahwa di dalam program harus dijelaskan secara terus terang, terbuka dan tepat, sebab-musabab dari kemiskinan serta kesengsaraan Rakyat pekerja, dan apa sebabnya persatuan kaum buruh menjadi semakin luas serta kuat. Tidaklah cukup untuk mengatakan bahwa kehidupan sukar, dan menyerukan akan pendurhakaan; setiap tukang gembar-gembor dapat melakukan itu,  Tetapi sedikit gunanya. Yang perlu yalah supaya Rakyat pekerja mengerti dengan jelas apa sebabnya mereka hidup dalam kesengsaraan dan dengan siapa mereka harus bersatu untuk berjuang supaya membebaskan diri mereka dari kekurangan.
           Kami sudah mengatakan apa yang dikehendaki kaum Sosial-Demokrat; sudah kami jelaskan sebab-musabab dari kekurangan serta kemiskinan Rakyat pekerja; sudah kami tunjukkan siapa yang harus dilawan kaum miskin desa dengan siapa mereka harus bersatu untuk perjuangan ini.
          Sekarang akan kami terangkan perbaikan-perbaikan apa yang dapat kita capai dengan segera dengan perjuangan kita, perbaikan-perbaikan dalam kehidupan kaum buruh maupun dalam kehidupan petani-petani.



Catatan:
[*10] Di Rusia orang-orang naif yang menginginkan kebaikan bagi petani, tetapipun sebentar-sebentar memulai omongan bermadu macam ini, dinamakan kaum “Narodnik” atau “ pendekar-pendekar pengusahaan-pertanian kecil-kecilan”. Kaum “ Sosialis Revolusioner”, karena ketiadaan pengertian, mengikuti juga jejak-jejak mereka. Di Jerman juga terdapat tidak sedikit orang yang bermulut manis. Salah seorang di antara mereka, Eduard David, baru saja menulis sebuah buku tebal. Dalam buku ini dia mengatakan bahwa usaha-usaha pertanian kecil adalah tak terhingga lebih menguntungkan daripada usaha-usaha pertanian besar, sebab petani kecil tidak mengeluarkan  uang yang tak perlu-perlu, tidak memelihara kuda untuk membajak, dan puas dengan memakai sapi perahannya itu-itu juga untuk membajak.
[*11]  Lihat lebih lanjut, pada akhir buku ini, suatu Lampiran – Program Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia, yang diusulkan oleh suratkabar Sosial-Demokrat Iskra dan majalah Zarya.


Sumber: KEPADA KAUM MISKIN DESA / 1903, BAB 4 
More aboutKEMANA PETANI-SEDANG HARUS PERGI? KE PEMILIK HARTA, ATAU KAUM TAK BERPUNYA?

KEKAYAAN DAN KEMISKINAN DI DESA

Diposting oleh poentjak harapan

           Sekarang tahulah kita apa yang dikehendaki kaum Sosial-Demokrat itu. Mereka hendak melawan seluruh klas kaya untuk membebaskan Rakyat dari kemiskinan. Dan di desa kita tak kurang dan, barangkali, malah lebih banyak kemiskinan daripada di kota. Di sini kita tak akan membicarakan betapa besarnya kemiskinan di pedesaan itu. Setiap buruh yang pernah di desa dan setiap petani mengenal betul-betul akan kekurangan, kelaparan, kedinginan dan kebangkrutan di desa.
        Tetapi petani tidak tahu sebab kesengsaraan, kelaparan dan kebangkrutannya, dan bagaimana membebaskan diri dari kekurangan ini. Untuk mengetahui ini kita harus lebih dulu memahami apa yang menyebabkan segala kekurangan serta kemiskinan baik di kota maupun di desa.  Hal ini sudah kita bicarakan secara singkat, dan kita sudah melihat bahwa petani-petani miskin serta kaum buruh desa harus bersatu dengan kaum buruh  kota. Tetapi itu belum cukup.  Kita harus mengetahui juga orang-orang macam apa di desa yang akan mengikuti kaum kaya, pemilik-pemilik-harta, dan orang-orang macam apa yang akan mengikuti kaum buruh, kaum Sosial-Demokrat. Kita harus mengetahui banyakkah petani yang tidak kurang dari pada tuan tanah-tuan tanah dapat memperoleh kapital dan hidup atas kerja orang lain. Jika kita tidak mendalami soal ini sampai ke dasarnya, maka berapa juga  banyaknya omongan tentang kemiskinan tak akan ada gunanya apapun juga, dan kaum miskin desa tak akan tahu siapa di desa yang harus  bersatu di antara mereka sendiri dan kaum buruh kota, dan bagaimana seharusnya orang berbuat supaya persekutuan ini menjadi betul-betul kuat, supaya petani jangan ditipu oleh saudaranya sendiri, oleh petani kaya, sebagaimana ia ditipu oleh tuan tanah.
          Untuk mendalami ini sampai ke dasarnya marilah kita sekarang melihat berapa kekuatan kaum tuan tanah dan berapa kekuatan kaum tani-kaya di desa.
         Marilah kita mulai dengan kaum tuan tanah. Kita dapat mengukur kekuatan mereka pertama-tama dengan luas tanah yang ada dalam milik perseorangan mereka. Luas tanah di Rusia Eropa, termasuk tanah-pembagian petani dan tanah milik perseorangan, dulunya ditaksir seluruhnya sebanyak 250 juta[*7] desiatina[*8] (kecuali tanah-tanah negara, yang akan kami bicarakan tersendiri). Dari jumlah 240 juta desiatina ini,  dalam tangan kaum tani, yaitu dalam tangan lebih dari sepuluh juta  keluarga tani, terdapat 131 juta desiatina ada dalam tangan pemilik-pemilik perseorangan, yaitu dalam tangan  kurang dari setengah juta keluarga. Jadi, kalaupun kita ambil rata-ratanya saja, maka bagian tanah setiap keluarga petani kiranya akan berukuran 13 desiatina, sedang bagian setiap keluarga dari pemilik-pemilik perseorangan kiranya akan berukuran 218 desiatina! Tetapi ketidak samaan dalam pembagian tanah itu jauh lebih besar lagi, sebagaimana akan segera kita lihat nanti.
         Dari jumlah 109 juta desiatina yang ada pada pemilik-pemilik perseorangan, tujuh juta adalah tanah-tanah kerajaan, dengan kata-kata lain, merupakan milik perseorangan dari anggota-anggota keluarga tsar. Tsar, beserta keluarganya, adalah tuan tanah yang pertama, tuan tanah yang terbesar di Rusia. Satu keluarga memiliki tanah lebih luas daripada yang terdapat pada setengah juta  keluarga petani! Selanjutnya, gereja-gereja serta biara-biara memiliki kira-kira enam juta desiatina tanah. Pendeta-pendeta kita mengkhotbahkan ketidakrakusan dan pembatasan nafsu kepada kaum tani, tetapi mereka sendiri, dengan jalan jujur maupun kotor, telah mengumpulkan pada mereka tanah yang sangat luas sekali.
           Seterusnya, dianggap bahwa kira-kira dua juta desiatina dimilikioleh kota-kota besar dan kota-kota kecil, dan kira-kira seluas itu juga oleh berbagai perseorangan serta kongsi dagang dan industri. 92 juta desiatina (angkanya yang persis 91.605.845, tetapi untuk mempermudah persoalan kami akan mengutip angka-angka bulat) adalah kepunyaan dari kurang daripada setengah juta (481.358) keluarga pemilik-pemilik perseorangan. Separoh dari keluarga-keluarga ini adalah pemilik-pemilik kecil sekali, yang masing-masing memiliki tanah kurang dari sepuluh desiatina, dan semua mereka bersama-sama memiliki kurang dari satu juta desiatina.  Sebaliknya, enam belas ribu keluarga masing-masing memiliki lebih dari seribu desiatina dan luas seluruh tanah yang mereka miliki berjumlah sampai enampuluh lima juta desiatina. Tambahan lagi, betapa luasnya tanah yang terpusat dalam tangan pemilik-pemilik tanah besar terlihat juga dari kenyataan bahwa hanya kurang dari seribu keluarga (924) memiliki tanah masing-masing lebih dari sepuluh ribu desiatina, dan mereka semua bersama-sama memiliki duapuluh tujuh juta desiatina! Seribu keluarga memiliki tanah seluas yang dimiliki oleh dua juta keluarga petani.
         Teranglah bahwa jutaan dan puluhan juta Rakyat pasti terpaksa hidup dalam kesengsaraan serta kelaparan dan akan terus hidup dalam kesengsaraan serta kelaparan selama tanah yang sangat luas seperti itu dimiliki oleh beberapa ribu orang kaya. Teranglah bahwa pembesar-pembesar negara, pemerintah (pemerintah tsar-pun) itu sendiri juga akan menari menurut gendang pemilik-pemilik tanah besar ini selama keadaan ini tetap berlangsung. Teranglah, kaum miskin desa tak dapat mengharapkan pertolongan dari siapapun juga,  atau dari kalangan manapun juga, selama mereka sendiri tidak bersatu, berpadu dalam satu klas untuk melakukan perjuangan yang tabah lagi mati-matian melawan klas tuan tanah ini.
              Dalam hal ini kami harus mencatat bahwa banyak sekali orang di negeri kita (bahkan banyak orang di antara mereka yang terpelajar)  berpendirian salah samasekali mengenai kekuatan klas tuan tanah; mereka mengatakan bahwa:” Sebagian besar dari wilayah (yaitu, seluruh tanah) Rusia sudah sekarang menjadi kepunyaan negara”. (Kata-kata ini diambil dari surat kabar Revolyutsionnaya Rossiya, No.8 hlm.8). Kesalahan yang dibikin oleh orang-orang ini timbul dari yang berikut. Mereka telah mendengar bahwa di negeri kita negara memiliki tanah seluas 150 juta desiatina  di Rusia Eropa. Itu betul demikian. Tetapi mereka lupa bahwa tanah seluas seratus limapuluh juta desiatina ini hampir samasekali terdiri dari tanah yang sukar dipakai, dan hutan-hutan di Utara Jauh di Gubernia-Gubernia Arkhangels, Wologda, Olonets, Wyatka dan Perm. Jadi, negara hanya tetap menguasai tanah yang hingga sekarang samasekali tidak cocok untuk perusahaan pertanian. Sedangkan tanah yang dapat digarap yang dimiliki negara luasnya kurang dari empat juta desiatina. Dan tanah negara yang dapat dipakai ini (misalnya di Gubernia Samara, di mana tanah itu istimewa luasnya), disewa dengan sewa tanah yang rendah sekali, hampir dengan cuma-cuma, oleh kaum kaya. Kaum kaya menyewa ribuan dan puluhan ribu desiatina dari tanah-tanah ini dan kemudian menyewakannya lagi kepada petani-petani dengan sewa tanah yang gila.
            Orang-orang yang mengatakan bahwa negara memiliki banyak tanah adalah penasehat-penasehat petani yang betul-betul jelek sekali. Hal yang sebenarnya yalah bahwa pemilik-pemilik-tanah besar perseorangan (termasuk tsar sendiri) memiliki banyak tanah yang baik, dan tuan tanah-tuan tanah besar ini memegang negara itu sendiri dalam tangan mereka. Selama kaum miskin desa tak dapat bersatu, dan dengan bersatu menjadi kekuatan yang dahsyat, maka “negara” selamanya akan tetap menjadi pelayan yang patuh dari klas tuan tanah. Ada satu hal lagi yang tidak  boleh dilupakan: dulu, hampir semua tuan tanah  adalah kaum bangsawan. Kaum bangsawan sampai sekarang masih memiliki tanah yang mahaluas (dalam tahun  1877-1878, 115 ribu  bangsawan  dianggap  memiliki 73 desiatina), tetapi kini, uang, kapitallah yang menjadi kekuatan yang utama. Saudagar-saudagar serta petani-petani kaya membeli tanah  yang betul-betul luas sekali. Ditaksir bahwa selama tigapuluh tahun (dari tahun 1863 hingga 1892) kaum bangsawan kehilangan tanah (yaitu, menjual tanah lebih banyak daripada yang mereka beli) seharga lebih dari enam ratus juta Rubel. Sedangkan saudagar-saudagar serta warga negara-warga negara kehormatan telah membeli tanah seharga 250 juta Rubel. Petani-petani orang-orang Kozak dan “kaum filistin desa lainnya” (sebagaimana pemerintah kita menamakan orang-orang pangkat biasa, untuk membedakan mereka dari “orang-orang yang mulia” dan “orang-orang bersih”) telah membeli tanah seharga 300 juta Rubel. Jadi, rata-rata, setiap tahun, petani-petani diseluruh Rusia membeli lagi tanah sebagai milik perseorangan seharga 10 juta Rubel.
         Maka itu, ada berbagai macam kaum tani: yang satu hidup dalam kesengsaraan dan kelaparan, sedangkan lainnya menjadi makin kaya. Maka itu, jumlah petani kaya yang condong kepada kaum tuan tanah dan yang akan memihak kaum kaya menentang kaum buruh semakin meningkat. Dan kaum miskin desa yang hendak bersatu dengan kaum buruh kota harus memikirkan hal ini dengan saksama, harus menyelidiki apakah petani-petani kaya macam ini banyak jumlahnya, berapa kekuatan mereka, serta persatuan macam apa yang kita butuhkan untuk melawan kekuatan ini. Kita baru saja menyebut tentang penasehat-penasehat petani yang jelek. Penasehat-penasehat yang jelek itu suka mengatakan bahwa petani-petani sudah mempunyai sebuah perkumpulan. Perkumpulan itu ialah komune desa. Komune desa, kata mereka, adalah suatu kekuatan besar. Perkumpulan macam komune desa itu mempersatukan petani-petani dengan sangat eratnya: organisasi (yaitu, perserikatan, persatuan) dari petani-petani dalam komune desa itu adalah kolosal (yaitu maha besar, tak terhingga).
          Itu tidak benar. Itu suatu dongeng. Suatu dongeng yang dikarang oleh orang-orang yang baik hati, sekalipun demikian tokh suatu dongeng. Dan jika kita membiarkan diri mendengarkan dongeng-dongeng, maka kita hanya akan merusak urusan kita , urusan mempersatukan kaum miskin desa dengan kaum buruh kota.  Biar setiap penduduk desa melihat kesekelilingnya dengan saksama: apakah perkumpulan komune desa, apakah komune petani itu menyerupai suatu persatuan kaum miskin guna perjuangan melawan semua kaum kaya, semua mereka yang hidup atas kerja orang lain? Tidak, tidak menyerupai dan tidak bisa menyerupainya. Di setiap desa, di setiap komune desa, terdapat banyak kaum buruh tani, banyak petani yang sudah menjadi miskin, dan terdapat pula petani-petani-kaya yang sendiri memperkerjakan buruh-tani dan membeli tanah “untuk se-lama-lamanya”. Petani-petani kaya ini juga menjadi anggota-anggota komune desa itu, dan merekalah yang memegang tampuk kekuasaan dalam komune desa itu sebab mereka merupakan suatu kekuatan. Tetapi adakah kita membutuhkan justru suatu persatuan di mana masuk juga kaum kaya, di mana yang memegang tampuk kekuasaan yalah kaum kaya? Tentu saja, tidak.  Kita membutuhkan suatu persatuan guna berjuang melawan kaum kaya. Maka itu, perkumpulan macam komune desa itu samasekali tak ada gunanya bagi kita.
          Yang kita butuhkan yalah suatu persatuan secara sukarela, suatu persatuan hanya dari orang-orang yang telah menyadari bahwa mereka harus besatu dengan kaum buruh kota. Sedangkan komune desa itu bukanlah suatu persekutuan secara suka rela; ia merupakan persekutuan yang dipaksakan oleh negara. Yang masuk dalam komune desa bukanlah orang-orang yang bekerja untuk kaum kaya dan yang ingin bersatu untuk melawan kaum kaya. Dalam komune desa itu masuk segala macam orang, bukan karena mereka ingin masuk ke dalamnya, melainkan karena orangtua-orangtua mereka brdiam di atas tanah yang sama dan bekerja untuk tuan tanah yang sama, karena pembesar-pembesar telah mendaftar mereka sebagai anggota komune-komune desa itu.  Petani-petani miskin tidak dapat meninggal komune desa itu secara bebas, mereka tidak dapat menerima dengan bebas ke dalam komune desa itu seorang yang oleh polisi didaftar dalam Wolost lain,  tetapi yang mungkin kita perlukan bagi persatuan kita khusus di desa yang bersangkutan. Tidak kita membutuhkan suatu macam persatuan yang lain sama sekali, suatu persatuan sukarela yang terdiri hanya dari buruh-buruh tani dan petani-petani miskin guna berjjuang melawan semua mereka yang hidup atas kerja orang lain.
              Masa-masa di mana komune desa itu merupakan suatu kekuatan sudah lama lewat. Dan masa-masa itu kapanpun tidak akan kembali. Komune desa merupakan suatu kekuatan pada waktu ketika di antara kaum tani hampir tidak ada buruh-buruh-tani dan kaum buruh yang mengembara  ke segenap penjuru Rusia mencari pekerjaan,  dan ketika juga hampir tak ada petani-petani-kaya, pada waktu ketika semuanya sama-sama ditindas oleh tuan tanah-tuan tanah pemilik hamba. Tetapi sekarang uanglah yang telah menjadi kekuatan yang utama. Anggota-anggota dari satu komune desa yang sama sekarang berkelahi satu sama lain untuk uang tidak kalah dengan binatang-binatang buas.  Petani yang beruang kadang-kadang menindas serta merampok sesam petani dari komune desa yang sama dengan lebih jahat daripada yang dibuat seorang tuan tanah. Yang kita butuhkan kini bukanlah persatuan macam komune desa melainkan suatu persatuan untuk melawan kekuasaan uang, untuk menentang kekuasaan kapital, suatu persatuan dari semua kaum pekerja desa dan semua petani yang tak berpunya dari berbagai komune desa, suatu persatuan dari semua kaum miskin desa dengan kaum buruh kota guna perjuangan melawan baik kaum tuan tanah maupun kaum tani-kaya.
            Kita sudah melihat beberapa kekuatan kaum tuan tanah. Sekarang kita harus melihat apakah petani-petani-kaya itu banyak jumlahnya dan berapa kekuatan mereka. Kita mengukur kekuatan tuan tanah-tuan tanah dengan besarnya perusahaan mereka, dengan banyaknya tanah yang mereka miliki. Kaum tuan tanah dapat mengurus tanah mereka dengan bebas, mereka menjual dan membeli tanah dengan bebas. Itulah sebabnya maka orang mungkin mengukur kekuatan mereka secara tepat sekali dengan banyaknya tanah yang mereka miliki. Akan tetapi di negeri kita kaum tani sampai sekarang masih belum mempunyai hak untuk mengurus tanah mereka secara bebas, mereka sampai sekarang masih merupakan setengah hamba, yang terikat pada komune desa mereka. Karena itu kekuatan petani-petani-kaya tak dapat diukur dengan banyaknya tanah-pembagian yang mereka punyai. Petani-petani kaya tidak menjadi semakin kaya dari tanah-pembagian mereka; mereka membeli banyak tanah, mereka membelinya “untuk selama-lamanya (yaitu, sebagai milik perseorangan mereka) dan “untuk sejumlah tahun” (yaitu, dengan menyewa); mereka membelinya dari tuan tanah-tuan tanah dan dari sesama petani, dari mereka yang melepaskan tanah, yang karena kekurangan terpaksa menyewakan tanah-pembagian mereka. Karena itu adalah paling tepat untuk membagi petani-kaya, petani sedang dan petani tak berpunya menurut jumlah kuda yang mereka miliki. Seorang petani yang mempunyai banyak kuda hampir selalu seorang petani kaya; jika ia mempunyai banyak hewan-penarik maka ini menunjukkan bahwa dia  menggarap banyak tanah, mempunyai tanah di samping hanya tanah-pembagian saja, dan mempunyai uang simpanan. Lagi pula, ada kesempatan pada kita untuk mengetahui berapa jumlahnya petani yang memiliki banyak kuda di seluruh Rusia (Rusia Eropa, tidak termasuk Siberia dan Kaukas). Sudah barang tentu, tidaklah boleh dilupakan bahwa kita dapat bicara tentang seluruh Rusia hanyalah secara pukulrata; berbagai Uyezd dan Gubernia banyak berbeda. Misalnya di sekitar kota-kota besar kita sering menjumpai pengusaha-pengusaha pertanian kaya yang mempunyai kuda sedikit sekali. Ada di antaranya yang mengusahakan kebun sayur-sayuran – suatu perusahaan yang sangat menguntungkan; lainnya mempunyai kuda sedikit tetapi mempunyai banyak lembu dan menjual susu.  Di semua bagian Rusia terdapat pula petani-petani yang tidak mendapatkan uang dari tanah, tapi dengan berdagang, dengan mengusahakan kilang-kilang mentega, kilang-kilang pengupasan sekam, dan lain-lain perusahaan. Setiap orang yang tinggal di desa mengenal betul petani-petani-kaya di desa atau distrik mereka sendiri. Tetapi kita ingin tahu berapa banyaknya petani-kaya di seluruh Rusia dan kekuatan mereka, sehingga petani miskin tidak perlu lagi main-terka serta berbuat dengan membuta, tetapi supaya dia tahu persis siapa kawan-kawannya dan siapa musuh-musuhnya.
              Baiklah, mari kita lihat bagaimana jumlahnya petani yang kaya dan yang miskin dalam pemilikan kuda. Sudah kita katakan bahwa jumlah semua keluarga petani di Rusia ditaksir kira-kira sepuluh juta. Mereka barangkali sekarang memiliki dalam keseluruhannya kira-kira limabelas juta ekor kuda (kira-kira empatbelas tahun yang lalu jumlah itu tujuh belas juta, tetapi sekarang berkurang). Jadi, rata-rata, setiap sepuluh keluarga mempunyai limbelas ekor kuda.Tetapi seluruh persoalannya yalah bahwa beberapa di antara mereka – yang sedikit saja jumlahnya – apalagi yang banyak sekali jumlahnya – atau sama sekali tidak mempunyai kuda, atau hanya mempunyai sedikit sekali. Sekurang-kurangnya ada tiga juta petani yang mempunyai kuda, dan kira-kira tigasetengah juta petani masing-masing hanya mempunyai seekor kuda saja. Kesemuanya ini adalah petani-petani yang jatuh bangkrut samasekali atau petani-petani yang sangat miskin. Kita namakan mereka ini kaum miskin desa. Jumlah mereka ada enam setengah juta dari seluruh jumlah sepuluh juta, artinya, hampir dua pertiga. Kemudian petani-petani sedang yang masing-masing mempunyai sepasang hewan-penarik. Jumlah petani-petani ini kira-kira dua juta keluarga, dan mereka memiliki kira-kira empat juta ekor kuda. Lalu petani-petani kaya, yang masing-masing mempunyai lebih dari sepasang hewan penarik. Petani-petani kaya ini meliputi satu setengah juta keluarga, tetapi mereka memiliki tujuh setengah juta ekor kuda [*9]. Jadi, kira-kira seperenam dari jumlah semua keluarga itu memiliki separuh dari jumlah semua kuda.
              Setelah kita mengetahui ini, kita mampu dengan agak tepat menimbang kekuatan petani-petani kaya. Jumlah mereka sedikit sekali; di berbagai komune desa, di berbagai Wolost dari setiap seratus keluarga jumlah mereka dari sepuluh sampai duapuluh. Tetapi jumlah keluarga yang sedikit ini adalah yang terkaya. Jadinya, kalau orang mengambil Rusia dalam keseluruhannya, maka mereka itu memiliki kuda hampir sebanyak yang dimiliki  semua petani lainnya dijadikan satu. Ini berati bahwa luas tanah garapan mereka juga hampir separuh dari seluruh luas tanah garapan petani dalam keseluruhannya. Petani-petani sedemikian itu memaneni gandum jauh lebih banyak daripada yang mereka perlukan untuk kebutuhan-kebutuhan keluarga mereka. Mereka menjual banyak gandum. Mereka menanam gandum-ganduman tidak melulu untuk dimakan sendiri, melainkan terutama untuk dijual, untuk mendapatkan uang. Mereka menyimpan uang itu dalam bank-bank tabungan dan bank-bank. Mereka membeli tanah supaya menjadikannya milik mereka. Sudah kami katakan berapa banyak tanah yang dibeli petani-petani di seluruh Rusia setiap tahunnya; hampir semua tanah ini dibeli oleh petani-petani kaya yang sedikit jumlahnya ini. Kaum miskin desa terpaksa memikirkan  bukan tentang membeli tanah, melainkan terutama tentang menyediakan bahan makan untuk diri mereka sendiri. Seringkali mereka tidak mempunyai cukup uang untuk mendapat roti, apalagi untuk membeli tanah. Karena itu, segala macam bank pada umumnya dan bank Tani terutama, menolong samasekali bukan semua petani untuk memperoleh tanah (sebagaimana kadang-kadang dicoba diyakinkan oleh orang-orang yang menipu si-muzyik atau orang-orang yang terlalu naif sekali), tetapi hanya petani-petani yang terlalu kecil jumlahnya, hanya petani-petani kaya saja. Oleh karena itu, penasehat-penasehat petani yang jelek yang kami sebutkan itu juga mengatakan kebohongan seolah-olah petani-petani membeli tanah, seolah-olah tanah sedang mengalir dari kapital kepada kerja. Tanah tak akan mengalir kepada kerja, yaitu, pada seorang pekerja miskin, sebab tanah harus dibayar dengan uang. Tetapi si-miskin tak pernah mempunyai kelebihan uang sedikitpun. Tanah hanya bisa jatuh pada petani-petani kaya, petani-petani yang beruang, pada kapital, hanya pada orang-orang yang harus dilawan oleh kaum miskin desa dengan bersekutu dengan kaum buruh kota.
          Petani-petani kaya tidak hanya membeli tanah untuk selama-lamanya, tetapi mereka itu juga  kebanyakannya mengambil tanah untk beberapa tahun lamanya dengan menyewa. Dengan menyewa bidang-bidang tanah yang luas, mereka mencegah kaum miskin desa mendapat tanah. Misalnya, di satu Uyezd di Gubernia Poltawa (Uyezd Konstantinograd) luas tanah yang disewa oleh petani-petani kaya telah dihitung. Dan apakah yang kita jumpai? Jumlah yang menyewa tanah seluas tigapuluh desiatina atau lebih untuk setiap keluarga adalah sedikit sekali, hanya dua dari setiap 15 keluarga. Tetapi petani-petani kaya itu menggenggam separuh dari semua tanah yang disewa, dan masing-masing dari mereka rata-rata mempunyai 75 desiatina dari tanah yang disewa!  Atau ammbillah Gubernia Tawrida, di mana sudah dihitung berapa banyak tanah yang disewa oleh petani-petani dari negara melalui masyarakat desa, melalui komune desa, dicekau oleh kaum kaya. Ternya bahwa kaum kaya, yang hanya merupakan seperlima dari jumlah semua keluarga, mencekau tigaperempat dari seluruh tanah yang disewa. Di mana-mana tanah dibagi-bagi menurut jumlah uang itu ada hanya pada kaum kaya yang sedikit jumlahnya.
          Selanjutnya, sekarang banyak tanah yang disewakan oleh petani-petani sendiri. Petani-petani itu melepaskan tanah-tanah kepunyaan mereka sebab mereka tidak mempunyai ternah, bibit, tidak mempunyai apa-apa untuk mengerjakan usaha pertanian mereka.  Kini tanah pun tak ada gunanya jika orang tak mempunayi uang. Misalnya, di Uyezd Nouwozens di Gubernia Samara, satu, kadang-kadang bahkan dua, dari setiap tiga keluarga petani-petani kaya meyewa tanah-tanah pembagian di komune mereka sendiri atau di komune lain. Tanah-tanah pembagian itu disewakan oleh orang-orang yang tidak mempunyai kuda, atau yang mempunyai seekor kuda saja. Di Gubernia Tawrida sebanyak sepertiga dari keluarga-keluarga petani menyewakan tanah-tanah pembagian. Seperempat dari tanah-tanah pembagian petani, seperempat juta desiatina ini, seratus limapuluh ribu desiatina (tigaperlima) jatuh dalam tangan petani-petani kaya! Inipun menunjukkan sekali lagi apakah persatuan masyarakat desa, persatuan komune desa, ada gunanya sedikitpun bagi kaum miskin. Dalam komune desa, barang siapa mempunyai uang, ia mempunyai kekuatan. Sedang yang kita butuhkan ialah persatuan kaum miskin dari segala macam komune.
              Sebagaimana halnya dengan omongan tentang membeli tanah, petani-petani itu juga ditipu dengan omongan tentang membeli dengan harga murah bajak-bajak, mesin-mesin sabit dan segala macam perkakas yang sudah disempurnakan. Gudang-gudang Zemstwo serta koperasi-koperasi didirikan  dan katanya: perkakas-perkakas yang sudah disempurnakan akan memperbaiki keadaan kaum tani. Ini hanyalah penipuan belaka. Segala perkakas yang sudah bertambah baik itu selama jatuh hanya pada kaum kaya; kaum miskin hampir tidak mendapat apa-apa. Mereka tak dapat memikirkan untuk membeli bajak-bajak atau mesin-mesin sabit; mereka sudah cukup sibuk memikirkan bagaimana menjaga supaya tubuh dan nyaea tetap bersatu! Segala macam bantuan “bantuan kepada kaum tani” itu tidak lain hanya bantuan kepada kaum kaya dan tidak lebih daripada itu. Adapun massa kaum miskin yang tidak mempunyai tanah, tidak mempunyai ternak, juga tidak mempunyai simpanan-simpanan, mereka itu tak akan beruntung oleh kenyataan bahwa perkakas-perkakas yang terbaik itu menjadi lebih murah. Ini suatu contoh. Di salah sebuah Uyezd di Gubernia Samara semua perkakas yang sudah disempurnakan kepunyaan petani-petani miskin dan petani-petani kaya dihitung. Ternyata bahwa seperlima dari semua keluarga, yaitu, yang paling mampu, memiliki hampir tiga perempat dari semua perkakas yang sudah bertambah baik, sedang kaum miskin – separuh dari keluarga-keluarga – mempunyai hanya sepertigapuluh-nya saja. Dari jumlah 28 ribu keluarga, 10 ribu adalah keluarga yang tak mempunyai kuda atau yang mempunyai seekor kuda; dan 10 ribu keluarga ini mempunyai cuma tujuh perkakas saja darui jumlah 5.724 perkakas yang sudah bertambah baik itu yang dimiliki oleh semua  keluarga petani di seluruh Uyezd itu. Tujuh perkakas dari 5.724 – itulah bagian dari kaum miskin desa dalam penyebaran bajak-bajak serta mesin-mesin sabit yang katanya membantu “semua kaum tani”! Itulah yang sebenarnya mesti diharapkan oleh kaum miskin desa dari orang-orang yang mengomong tentang “perbaikan usaha-pertanian petani”.
              Akhirnya, salah satu ciri utama dari petani-petani-kaya ialah bahwa mereka menyewa buruh-buruh-tani dan buruh-buruh-tani-harian. Seperti tuan tanah-tuan tanah, petani-petani kerja itu juga  hidup atas kerja orang lain. Seperti tuan tanah-tuan tanah, mereka juga menjadi kaya sebab massa petani bangkrut dan menjadi miskin. Seperti tuan tanah-tuan tanah, mereka juga berusaha memeras kerja sebanyak-banyaknya dari buruh-buruh tani mereka dan membayar upah sekecil-kecilnya kepada mereka. Jika seandainya jutaan petani tidak bangkrut samasekali dan tidak terpaksa pergi bekerja untuk orang-orang lain, menjadi orang-orang sewaan, menjual tenaga kerjanya, maka petani-petani kaya tak mungkin ada, tidak dapat melakukan usaha pertanian mereka. Tak akan ada tanah-tanah pembagian yang “ditinggalkan” untuk mereka pungut dan tak akan ada buruh-buruh untuk mereka sewa. Satu setengah juta petani kaya di seluruh Rusia itu pasti menyewa tidak kurang dari sejuta buruh tani dan buruh tani harian. Teranglah, di dalam perjuangan besar antara klas-klas yang bermilik dan yang tak bermilik, antara kaum majikan dan kaum buruh, antara burjuasi dan proletariat, petani-petani kaya akan memihak pemilik-pemilik harta dan menentang klas buruh.
              Sekarang tahulah kita akan keadaan serat kekuatan kaum tani kaya. Marilah kita meninjau kehidupan kaum miskin desa.
           Sudah kami katakan bahwa kaum miskin desa itu merupakan mayoritas maha besar, hampir duapertiga dari semua keluarga petani di seluruh Rusia. Pertama-tama, jumlah keluarga yang tak mempunyai kuda tidak kurang tiga juta, – mungkin sekali kini lebih daripada itu, barangkali tiga setengah juta. Setiap tahun kelaparan, setiap kegagalan panen, membangkrutkan puluhan ribu usaha tani. Penduduk bertambah banyak, Rakyat menjadi sesak-padat, tetapi semua tanah yang terbaik telah dicekau oleh tuan tanah-tuan tanah dan petani-petani kaya. Maka itu, setiap tahun makin banyak orang-orang yang bangkrut, mereka pergi ke kota-kota dan ke pabrik-pabrik, mereka menjual diri sebagai buruh-buruh-tani, atau menjadi kaum buruh takahli. Seorang petani yang tak mempunyai kuda adalah seorang petani yang telah menjadi tak mempunyai milik sama sekali. Dia adalah seorang proletar. Dia memperoleh penghidupannya (kalau itu bisa dinamakan penghidupan; lebih tepat untuk mengatakan bahwa dia hanya memikirkan bagaimana menjaga supaya tubuh dan nyawa tetap bersatu) bukan dari tanah, bukan dari usaha-pertaniannya, melainkan dengan pekerjaan upahan.  Dia adalah saudaranya buruh kota. Tanahpun tak ada gunanya bagi seorang petani yang tak mempunyai kuda; separuh dari petani-petani yang tak berkuda itu menyewakan tanah pembagian mereka, kadang-kadang bahkan menyerahkannya kepada komune desa dengan cuma-cuma (dan kadang-kadang malah sendiri membayar sejumlah uang tambahan untuk itu!) sebab mereka tak mampu menggarap tanah mereka. Seorang petani yang tak mempunyai kuda mengerjakan satu desiatina, atau paling banyak dua desiatina tanah. Dia selamanya harus membeli gandum tambahan (jika ia mempunyai uang untuk membelinya) karena kapanpun ia tak dapat hidup dari hasil panennya sendiri. Petani yang mempunyai satu ekor kuda, yang jumlahnya kira-kira 3 ½ juta keluarga di seluruh Rusia, tidak jauh lebih baik keadaannya. Sudah barang tentu ada kekecualian-kekecualian, dan telah kami katakan bahwa, di sana-sini, ada petani-petani yang masing-masing mempunyai satu ekor kuda, yang boleh juga keadaannya, atau bahkan kaya. Tetapi kami tidak membicarakan kekecualian-kekecualian, tidak membicarakan satu-satu tempat, tetapi Rusia dalam keseluruhannya. Jika kita ambil seluruh massa petani yang mempunyai seekor kuda, maka tak dapat diragukan lagi bahwa mereka adalah massa miskin, massa gembel. Di Gubernia-Gubernia pertanian pun petani yang mempunyai satu ekor kuda itu mengerjakan tanah hanya tiga atau empat desiatina, jarang lima; hasil panenanya pun tidak mencukupi. Bahkan dalam tahun yang baikpun makanannya tidak lebih baik daripada petani yang tak mempunyai kuda – jadinya dia selamanya kurang makan, selamanya menderita lapar. Usaha pertaniannya dalam keadaan ambruk, ternaknya menyedihkan dan kurang makan, dia tidak mampu menggarap tanah dengan selayaknya. Untuk seluruh usaha pertaniannya petani yang mempunyai satu ekor kuda – di Gubernia Woronez, misalnya – sanggup mengeluarkan uang (tidak terhitung pengeluaran untuk makan ternak) tidak lebih dari duapuluh Rubel setiap tahunnya! (Seorang petani kaya mengeluarkan uang sepuluh kali itu). Duapuluh Rubel setiap tahun untuk sewa tanah, untuk membeli ternak, untuk memperbaiki bajak-kayunya dan perkakas-perkakas lainnya, untuk membayar upah penggembala, dan untuk segala-galanya lagi! Apakah yang begitu itu suatu usaha pertanian? Itu hanyalah suatu kesengsaraan belaka, suatu kerja berat, suatu kerja banting tulang abadi. Sewajarnyalah kalau sementara dari petani-petani yang mempunyai satu ekor kuda itu, dan tidak sedikit, juga menyewakan tanah pembagian mereka. Tanahnya pun bagi seorang gembel sedikit gunanya. Dia tidak mempunyai uang dan tanahnyapun tidak memberikan cukup makan baginya, apalagi uang. Tetapi uang dibutuhkan untuk segala-galanya: untuk makanan, untuk pakaian, untuk usaha pertanian dan untuk membayar pajak. Di Gubernia Woronez, seorang petani yang mempunyai satu ekor kuda biasanya harus membayar untuk pajak saja kira-kira delapan belas Rubel setiap tahunnya, dan untuk menutup segala pengeluarannya dia tidak dapat mencari uang lebih dari 75 Rubel se-tahun. Di bawah keadaan seperti ini maka hanyalah suatu olok-olok belaka mengomong tentang membeli tanah, tentang perkakas-perkakas yang sudah disempurnakan, tentang bank-bank tani; barang-barang ini diciptakan samasekali bukan bagi kaum tani miskin.
              Dari mana petani harus mendapat uang? Dia harus mencari “mata pencarian” di samping itu. Seorang petani yang mempunyai satu ekor kuda, seperti juga seorang petani yang mempunyai kuda, menyambung hidup hanya dengan bantuan “mata pencarian-mata pencarian”. Tetapi apakah artinya “mata pencarian-mata pencarian” itu? Artinya bekerja untuk orang lain, bekerja untuk sewaan. Artinya bahwa petani yang mempunyai satu ekor kuda itu setengahnya telah tidak lagi menjadi seorang petani yang bebas dan telah menjadi seorang sewaan, seorang proletar. Itulah sebabnya maka petani-petani yang sedemikian itu dinamakan kaum setengah proletar. Mereka adalah juga saudara-saudaranya kaum buruh kota, sebab mereka juga dicukur habis-habis dengan segala jalan oleh segala macam kaum majikan. Mereka juga tidak mempunyai jalan-keluar, tidak mempunyai penyelamatan, kecuali dengan bersatu dengan kaum Sosial-Demokrat untuk berjuang menentang semua kaum kaya, semua pemilik harta. Siapakah yang bekerja pada pembangunan jalan-jalan keret api? Siapakah yang dicukur oleh pemborong? Siapakah yang pergi menebang kayu dan merakitkan kayu-kayu itu? Atau sebagai seorang buruh-tani-harian? Siapakah yang mengerjakan pekerjaan takahli di kota-kota serta di pelabuhan-pelabuhan? Semuanya kaum miskin desa. Semuanya kaum proletar dan setengah proletar desa. Dan betapa besarnya jumlah mereka ini di Rusia! Di seluruh Rusia (tidak termasuk Kaukas dan Siberia) ditaksir setiap tahun dikeluarkan delapan dan kadang-kadang malah sembilan juta surat-pas. Semuan surat pas itu adalah untuk kaum buruh yang bekerja di luar daerahnya. Mereka hanya namanya saja petani-petani, tetapi sebenarnya mereka adalah orang-orang sewaan, kaum pekerja upahan. Mereka semuanya harus besatu dalam satu persatuan dengan buruh kota – dan setiap sinar penerangan dan pengetahuan yang sampai ke pedesaan akan memperkuat serta mengkonsolidasi persatuan ini.
                Ada satu hal lagi tentang “mata pencarian-mata pencarian”, yang tidak boleh dilupakan. Amtenar-amtenar, dan segala macam orang yang berfikir seperti amtenar, suka sekali beromong-omong tentang hal bahwa petani, muzyik, “membutuhkan” dua hal: tanah (tapi jangan terlalu banyak – lagi pula, dia tak dapat memperoleh banyak tanah, sebab kaum kaya telah mencekaunya semua) dan “mata pencarian-mata pencarian”. Karena itu, maka mereka, untuk membantu Rakyat, perlu diadakan lebih banyak lapangan pekerjaan di pedesaan, “disediakan” lebih banyak “mata pencarian-mata pencarian”. Omongan sedemikian adalah suatu kemunafikan belaka. Bagi kaum miskin, “mata pencarian-mata pencarian” itu berarti kerja upahan. “Menyediakan mata pencarian-mata pencarian” bagi petani berarti mengubah petani itu menjadi seorang buruh upahan. Bantuan yang bagus, bukan main! Bagi petani-petani kaya ada macam-macam “mata pencarian-mata pencarian” lainnya, yang memerlukan kapital, misalnya, membangun sutau penggilingan tepung atau suatu perusahaan lainnya, pembelian mesin penebah gandum, perdagangan dan seterusnya. Mengacaukan mata pencarian-mata pencarian dari orang-orang beruang dengan kerja upahan dari kaum miskin berarti menipu kaum miskin. Sudah barang tentu penipuan ini menguntungkan kaum kaya, bagi mereka adalah menguntungkan untuk menggambarkan persoalan sedemikian seolah-olah segala macam “mata pencarian-mata pencarian” itu terbuka dan di dalam raihan semua petani. Tetapi barang siapa yang benar-benar menginginkan pebaikan keadaan kaum miskin, akan mengatakan kepada mereka seluruh kebenaran dan tidak lain daripada kebenaran.
                 Bagi kami sekarang tinggal meninjau petani-petani sedang. Sudah kita lihat bahwa, rata-rata, mengambil Rusia dalam keseluruhannya, kita harus menganggap sebagai seorang petani-sedang ialah petani yang mempunyai sepasang hewan penarik dan bahwa dari jumlah sepuluh juta keluarga kira-kira ada dua juta keluarga petani-sedang di dalam negeri. Petani sedang itu sendiri di antara petani kaya dan proletar, dan itulah sebabnya maka dia dinamakan seorang petani-sedang. Taraf hidupnya juga sedang: dalam tahun yang baik dia dapat menutup kebutuhan hidupnya dengan usaha pertaniannya, tetapi kemiskinan selalu mengetuk pintunya.  Dia mempunyai simpanan yang sedikit sekali atau tidak mempunyai simpanan samasekali. Itulah sebabnya maka usaha pertaniannya   itu berada dalam posisi yang tak tentu. Dia sukat mendapat uang; jarang sekali dia bisa mendapat uang dari usaha pertaniannya sebanyak yang dibutuhkannya, dan jika dia bisa mendapat uang itu, hanya hampir cukup saja. Pergi mencari mata pencarian akan berarti melantarkan usaha pertaniannya dan di sana-sini dalam usaha pertaniannya akan mulai terdapat kekurangan-kekurangan. Sekalipun demikian, banyak di antara petani-petani-sedang itu sama sekali tak mungkin tanpa mata pencarian tambahan: juga mereka harus menyewakan diri mereka, kekurangan memaksa mereka memasuki perbudakan kepada tuan tanah, terjerumus dalam hutang. Dan sekali berhutang, petani sedang itu hampir tak pernah keluar dari padanya, sebab lain dengan petani-kaya dia tidak mempunyai pendapatan yang tetap. Karena itu, sekali dia jatuh ke dalam hutang adalah sama seperti memasukkan lehernya ke dalam jerat. Dia tetap menjadi orang yang berhutang sampai dia bangkrut sama sekali. Petani sedanglah yang terutama jatuh ke dalam perbudakan pada tuan tanah, sebab untuk pekerjaan borongan pada tuan tanah harus ada seorang petani yang tidak bangkrut, seorang petani yang mempunyai sepasang kuda dan semua yang diperlukan untuk usaha pertanian. Bagi petani-sedang adalah sukar untuk pergi mencari mata pencarian di luar, maka itu dia masuka ke perbudakan kepada tuan tanah sebagai pembayar untuk gandum, untuk izin mempergunakan padang rumput, untuk penyewaan tanah-tanah potongan, untuk uang persekot musim dingin. Di samping tuan tanah dan kulak, petani sedang itu juga digencet keras oleh tetangganya yang kaya, yang selalu merenggut tanah dari bawah batang hidungnya dan tak pernah membiarkan lewat kesempatan untuk memerasnya dengan satu atau lain jalan. Demikianlah kehidupan petani sedang; dia bukan ikan juga bukan daging. Dia tidak dapat menjadi seorang majikan yang sejati, yang sungguh-sungguh, juga tidak bisa menjadi seorang buruh. Semua petani sedang condong pada kaum majikan; mereka ingin menjadi pemilik-pemilik harta, tetapi hanya sedikit sekali yang berhasil. Ada beberapa, sedikit sekali, yang bahkan menyewa buruh-buruh tani harian, berikhtiar menjadi kaya dengan kerja orang lain, memanjat kekayaan melalui punggung orang lain. Tetapi mayoritas dari petani-petani sedang tidak mempunyai uang untuk menyewa buruh – dalam kenyataannya, mereka harus menyewakan diri mereka sendiri.
               Di mana saja perjuangan antara kaum kaya dan kaum miskin, antara pemilik-pemilik harta  dan kaum buruh mulai, petani-sedang tetap berada di tengah-tengah dan tidak tahu kepada siapa dia harus memihak. Kaum kaya memanggil dia ke pihak mereka; kau adalah seorang majikan, seorang yang bermilik, katanya, kau tak ada sangkut paut apapun dengan kaum buruh yang tak mempunyai uang sepeser pun. Sedangkan kaum buruh berkata: kaum kaya akan menipu dan mencukurmu, dan bagimu tak ada penyelamatan kecuali dengan membantu kami dalam perjuangan kami melawan semua kaum kaya. Percekcokan untuk petani-sedang ini berlangsung di mana-mana, di semua negeri, di mana kaum buruh Sosial-Demokrat berjuang untuk membebaskan Rakyat pekerja. Di Rusia percekcokan itu sedang justru dimulai. Itulah sebabnya maka kit harus mempelajari hal tersebut dengan terutama teliti dan mengerti dengan jelas penipuan-penipuan yang dilakukan oleh kaum kaya guna menarik petani-sedang, belajar bagaimana menelanjangi penipuan-penipuan itu dan membantu petani-sedang menemukan sahabat-sahabat yang sejati. Jika kaum buruh Sosial-Demokrat Rusia lekas mengambil jalan yang benar, maka kita akan dapat menggalang persekutuan yang kokoh antara Rakyat pekerja desa dan kaum buruh kota dengan jauh lebih cepat daripada kawan-kawan kita, kaum buruh Jerman, dan kita dengan cepat akan mencapai kemenangan atas semua musuh kaum pekerja.


Catatan:
[*7] Angka-angka ini dan semua angka berikutnya mengenai luas tanah itu seudah lama sekali. Angka-angka itu mengenai tahun-tahun 1977-1878. Tetapi kami tidak mempunyai angka-angka yang lebih baru. Pemerintah Rusia dapat terus hidup dalam kegelapan, dan itulah sebabnya maka begitu jarang di negeri kita dikumpulkan keterangan-keterangan yang lengkap lagi benar tentang kehidupan Rakyat di seluruh negara.
[*8] Desiatina adalah ukuran tanah Rusia sama dengan 1,09 hektar, – Red.
[*9] Kami ulangi sekali lagi bahwa angka-angka yang kami kutip itu adalah angka-angka rata-rata, angka-angka kira-kira. Jumlah petani kaya mungkin sekali tidak persis satu setengah juta, tetapi satu seperempat juta atau satu tigaperempat juta, atau malah dua juta. Ini bukanlah suatu selisih yang besar. Yang penting di sini bukanlah menghitung mereka sampai angka ribuan atau ratusan ribu yang penghabisan, tetapi mengerti dengan jelas betapa kekuatan petani-petani kaya itu, bagaimana kedudukannya, sehingga kita dapat mengenal musuh-musuh kita dan kawan-kawan kita, sehingga kita tidak membiarkan diri kita tertipu oleh dongengan-dongengan, serta omongkosong-omongkosong, tetapi mengetahui dengan tepat keadaan kaum miskin dan terutama keadaan kaum kaya. Biar setiap pekerja desa mempelajari Wolostnya sendiri dan Wolost-Wolost tetangganya dengan saksama. Akan dilihatnya bahwa kita telah menghitung dengan tepat dan bahwa di mana-mana keadaannya rata-rata justru begitu; dari setiap seratus keluarga akan ada sepuluh, paling banyak dua puluh, keluarga kaya, kurang lebih duapuluh petani sedang, dan semua sisanya – petani-petani miskin.


Sumber: KEPADA KAUM MISKIN DESA / 1903,  BAB 3
More aboutKEKAYAAN DAN KEMISKINAN DI DESA

APA YANG DIKEHENDAKI KAUM SOSIAL-DEMOKRAT?

Diposting oleh poentjak harapan

          
         Kaum Sosial-Demokrat Rusia pertama-tama berjuang untuk memperoleh kebebasan politik. Mereka membutuhkan kebebasan justru untuk mempersatukan kaum buruh Rusia secara luas serta terbuka dalam perjuangan untuk susunan masyarakat yang baru dan lebih baik, masyarakat Sosialis.
          Apa kebebasan politik itu?
         Untuk memahami ini si-tani lebih dulu harus memperbandingkan keadaan bebasnya sekarang dengan perhambaan. Di bawah sistim perhambaan si tani tak dapat kawin tanpa izin si tuan tanah. Kini si tani  bebas kawin tanpa izin siapapun juga. Di bawah sistim perhambaan si tani pasti harus bekerja  untuk tuan tanah pada hari apa saja yang telah ditetapkan oleh juru milik si tuan tanah. Kini si tani bebas memilih, untuk majikan mana, pada hari apa, dan untuk upah berapa dia bekerja. Di bawah sistim penghambaan si tani sama sekali tak dapat meninggalkan desanya tanpa izin tuan tanah. Sedangkan kini si tani bebas pergi ke mana saja dia suka, jika komune desa memperkenankan dia pergi, jika dia tidak mempunyai tunggakan pajak, jika dia bisa mendapat surat pas, dan jika gubernur atau polisi tidak melarang dia pindah tempat kediaman. Jadi, kini pun si tani tidak mempunyai kebebasan penuh untuk pergi ke mana dia suka, dia tidak menikmati kebebasan gerak yang penuh, si tani masih tetap merupakan setengah hamba. Nanti akan kami jelaskan secara terperinci mengapa si tani Rusia masih tetap merupakan setengah hamba dan bagaimana dia dapat keluar dari keadaan itu.
          Di bawah sistim penghambaan si tani tidak berhak untuk mendapatkan harta tanpa izin tuan tanah, dia tak boleh membeli tanah. Kini si tani bebas mendapatkan harta macam apapun juga (tetapi kini pun dia tidak mempunyai kebebasan penuh untuk meninggalkan komune desa, kebebasan penuh untuk mengatur tanahnya menurut sukanya). Di bawah sistim penghambaan si tani dapat dicambuk atas perintah tuan tanah. Kini si tani tak dapat dicambuk atas perintah tuan tanah, meskipun sampai sekarang dia masih mudah kena hukuman badan.
          Kebebasan ini disebut kebebasan sipil – kebebasan dalam urusan-urusan keluarga, dalam urusan-urusan pribadi, dalam urusan-urusan mengenai mengenai harta mili. Si tani dan si buruh bebas (meskipun tidak sepenuhnya) mengatur hidup keluarga mereka dan urusan-urusan pribadi mereka, mengatur kerja (memilih majikan mereka) dan mengatur harta-milik mereka.
           Tetapi baik kaum buruh Rusia maupun Rakyat Rusia dalam keseluruhannya sampai sekarang belum bebas mengatur urusan-urusan umum  mereka. Semua Rakyat dalam keseluruhannya tetap tinggal hamba kaum birokrat, persis seperti petani-petani dulu adalah hamba tuan tanah. Rakyat Rusia tidak berhak memilih penjabat-penjabat mereka, tidak berhak memilih wakil-wakil mereka yang membuat undang-undang bagi seluruh negeri. Rakyat Rusia bahkan tidak berhak menyelenggarakan rapat-rapat untuk membahas urusan-urusan negara. Kita bahkan tak boleh mencetak suratkabar-suratkabar dan buku-buku, kita bahkan tak dapat berbicara di muka semua orang dan bagi semua orang tentang hal-hal mengenai seluruh negara tanpa izin penjabat-penjabat yang telah ditempatkan di atas kita tanpa persetujuan kita, persis seperti tuan tanah pada masa yang lalu mengangkat juru-miliknya tanpa persetujuan petani-petani!
          Persis seperti petani-petani dulu merupakan budak-budak tuan tanah-tuan tanah, begitu pulalah Rakyat Rusia masih tetap merupakan budak birokrasi. Persis seperti petani-petani di bawah sistim perhambaan dulu tidak mempunyai kebebasan sipil, demikin pulalah Rakyat Rusia masih belum mempunyai kebebasan politik. Kebebasan politik berarti kebebasan Rakyat mengatur urusan-urusan umu, urusan-urusan negara mereka. Kebebasan politik berarti hak Rakyat memilih wakil-wakil (utusan-utusan) mereka untuk Duma Negara [*2] (parlenem). Semua undang-undang semestinya dibahas serta diumumkan, semua pajak serta cukai semestinya ditetapkan hanya oleh satu Duma Negara (parlemen) yang dipilih oleh Rakyat itu sendiri. Kebebasan politik berarti hak Rakyat untuk memilih sendiri semua penjabat mereka, menyelenggarakan segala macam rapat untuk membahas semua urusan negara, menerbitkan suratkabar-suratkabar dan buku-buku apa saja yang mereka sukai tanpa harus minta izin apapun.
          Semua Rakyat Eropa lainnya sudah lama memenangkan kebebasan politik bagi diri mereka sendiri. Hanya di Turki dan Rusia sajalah Rakyat masih dalam perbudakan politik oleh pemerintah Sultan dan oleh pemerintah otokrasi tsar. Otokrasi tsar berarti kekuasaan yang tak terbatas dari tsar. Rakyat samasekali tidak ikut serta dalam mengatur negara dan dalam pemerintah negara. Semua undang-undang dibuat dan semua penjabat diangkat oleh tsar sendiri, oleh kewenangan pribadinya yang tak terbatas, yang otokratis. Tetapi, sudah barang tentu, tsar bahkan tidak dapat tahu akan semua undang-undang dan semua penjabat-penjabat Rusia. Tsar bahkan tak dapat tahu akan apa yang sedang terjadi di dalam negeri. Tsar hanya mensyahkan kehendak beberapa puluh penjabat yang terbesar dan paling tinggi kebangsawanannya. Bagaimanapun juga besar kehendaknya, satu orang  tidaklah dapat memerintah sebuah negeri yang maha luas seperti Rusia. Bukanlah tsar yang memerintah Rusia – orang hanya bisa berbicara tentang pemerintahan otokrasi, pemerintahan satu orang! – Rusia diperintah oleh segenggam kecil penjabat yang terkaya dan paling tinggi kebangsawananny. Tsar hanya kenal akan sesuatu apa yang segenggam orang-orang ini berkenan memberitahuka kepadanya. Tsar sama sekali tidak berkesempatan untuk menentang kehendak segenggam bangsawan tinggi ini: tsar sendiri adalah seorang tuan tanah dan bangsawan; sejak dari masa kanak-kanak betul-betul  dia hidup hanya di kalangan orang-orang bangsawan ini; merekalah yang mengasuh serta mendidiknya; yang diketahuinya tentang Rakyat Rusia dalam keseluruhannya hanyalah apa yang diketahui oleh tuan-tuan bangsawan ini, tuan tanah-tuan tanah yang kaya ini dan beberapa orang saja dari pedagang-pedagang yang paling kaya, yang diterima dalam istana tsar.
          Di setiap kantor administrasi Wolost  orang akan mendapati gambar yang itu-itu juga  yang tergantung pada dinding; gambar itu melukiskan tsar (Alexander III, bapak tsar yang sekarang) yang berbicara kepada kepala-kepala Wolost yang telah datang pada penobatannya. Tsar memerintahkan kepada mereka: “Turutilah perintah kepala-kepala kaum bangsawan!”   Dan tsar yang sekarang, Nikolai II, telah mengulangi kata-kata itu juga. Jadi, tsar-tsar sendiri mengakui bahwa mereka dapat memerintah negara hanya dengan bantuan kaum bangsawan dan melalui kaum bangsawan. Kita harus ingat betul-betul kata-kata harus menuruti perintah kaum bangsawan. Kita harus mengerti jelas betapa bohongnya omongan kepada Rakyat dari orang-orang yang mencoba mengemukakan bahwa pemerintah tsar adalah bentuk pemerintahan yang terbaik. Di negeri-negeri lain – kata orang-oreang itu – pemerintah dipilih; tetapi kaum kayalah yang dipilih, dan mereka memerintah dengan tak adil serta menindas kaum miskin. Sedangkan di Rusia, pemerintah tidak dipilih; tsar yang otokratis memerintah seluruh negeri. Tsar berdiri di atas semua orang, kaya dan miskin. Tsar, katanya, bersikap sama-sama adil terhadap semua orang, miskin maupun kaya.
           Omongan sedemikian itu hanyalah kemunafikan belaka. Setiap orang Rusia tahu akan macam keadilan yang diberikan oleh pemerintah kita. Setiap orang tahu apakah seorang buruh biasa atau seorang buruh-tani di negeri kita dapat menjadi seorang anggota Dewan Negara.Akan tetapi di semua negeri Eropa liannya kaum buruh pabrik dan kaum buruh-tani pernah dipilih untuk Duma Negara (parlemen); dan mereka berbicara dengan bebas kepada semua orang tentang kehidupan yang sengasara dari kaum buruh, dan berseru kepada kaum buruh supaya bersatu dan berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.  Dan tak seorangpun berani memberhentikan pidato-pidato dari wakil-wakil Rakyat ini, tak seorang polisipun berani menjamah mereka.
            Di Rusia tidak ada pemerintah yang dipilih, dan yang memerintah bukan saja mereka yang kaya serta orang-orang bangsawan, tetapi juga yang terjahat dari orang-orang ini. Yang memerintah ialah tukang-tukang intrik yang paling ahli di dalam istana tsar, tukang tusuk-tukang tusuk yang paling licik, orang-orang yang membawa kebohongan-kebohongan serta fitnah-fitnah kepada tsar yang mengambil muka serta menjilatnya. Mereka memerintah secara rahasia; Rakyat tidak tahu dan tidak bisa mengetahui undang-undang apa yang sedang dirancang, peperangan apa yang sedang dieramkan, pajak-pajak baru apa yang sedang dijalankan, penjabat-penjabat mana yang mendapat anugerah dan untuk jasa-jasa apa, dan penjabat-penjabat mana yang dipecat [*3]. Di negeri manapun tak ada jumlah amtenar yang begitu besar seperti di Rusia. Dan amtenar-amtenar ini menjulang tinggi di atas Rakyat yang tak bersuara bagaikan hutan gelap – seorang pekerja biasa tak pernah dapat menembus hutan ini, tak akan bisa mendapat keadilan. Tak ada satu pengaduanpun terhadap para penjabat karena korupsi, perampokan atau tindakan kekerasannya, yang pernah terbongkar; setiap pengaduan dijadikan tidak berarti apa-apa oleh peng-undur-unduran birokrasi resmi. Suara seorang yang terpencil tak pernah sampai pada seluruh Rakyat, melainkan hilang dalam rimba yang gelap ini, dicekik dalam kamar-siksa polisi. Suatu balatentara para amtenar, yang tak pernah dipilih Rakyat dan yang tak bertanggung-jawab kepada Rakyat, telah merajut sebuah jaring yang tebal, dan manusia menggelepar-gelepar dalam jaring ini seperti lalat[*4].
          Otokrasi tsar adalah suatu otokrasi dari amtenar-amtenar. Otokrasi tsar berarti ketergantungan Rakyat secara perhambaan pada amtenar-amtenar dan terutama pada polisi. Otokrasi tsar adalah otokrasi polisi.
           Itulah sebabnya maka kaum buruh keluar ke jalan-jalan dengan panji-panji yang bertuliskan: ”Enyahlah otokrasi!” “Hidup kebebasan politik!” Itulah sebabnya maka puluhan juta kaum miskin desa harus juga menyokong dan menyambut seruan bertempur dari kaum buruh kota ini. Seperti mereka, kaum buruh-tani serta kaum tani-miskin dengan tidak menjadi gentar karena pengejaran, tak takut pada ancaman-ancaman serta tindakan kekerasan musuh yang mana saja, dan tak bingung karena kekalahan-kekalahan pertama, harus maju tampil ke depan untuk perjuangan yang menentukan demi kebebasan seluruh Rakyat Rusia dan menuntut pertama-tama pemanggilan bersidang wakil-wakil Rakyat. Biarlah Rakyat sendiri di seluruh Rusia memilih wakil-wakil (utusan-utusan) mereka. Biarlah wakil-wakil itu membentuk sebuah majelis tertinggi, yang akan menegakkan pemerintahan pilihan di Rusia, membebaskan Rakyat dari ketergantungan perhambaan pada amtenar-amtenar dan polisi, menjamin bagi Rakyat hak bebas berapat, bebas berbicara dan mempunyai pers yang bebas!
          Itulah yang pertama-tama dikehendaki kaum Sosial-Demokrat. Itulah arti tuntutan  mereka yang pertama: tuntutan untuk kebebasan politik [*5].
         Kita tahu bahwa kebebasan politik, pemilihan secara bebas untuk Duma Negara (parlemen), kebebasan berapat, kebebasan pers, tak akan sekaligus membebaskan Rakyat pekerja dari kemiskinan serta penindasan. Di dunia bahkan tak ada alat yang dapat membebaskan kaum miskin kota dan desa dengan sekaligus dari beban bekerja untuk kaum kaya. Rakyat pekerja tak mempunyai seorangpun untuk menaruhkan harapan-harapan mereka padanya dan tak seorangpun yang dapat diandalkannya kecuali diri mereka sendiri. Siapapun juga tidak akan membebaskan si-buruh dari kemiskinan jika dia tidak membebaskan dirinya sendiri. Dan untuk membebasakan diri mereka sendiri  kaum buruh seluruh negeri, seluruh Rusia, harus bersatu dalam satu serikat, dalam satu partai. Tetapi jutaan kaum buruh tak dapat bersatu ketika  pemerintah otokrasi polisi melarang segala macam rapat, segala macam suratkabar kaum buruh, dan memilih wakil-wakil buruh apa saja. Untuk bersatu mereka harus mempunyai hak untuk membentuk serikat-serikat dari segala macam, mereka  harus mempunyai kebebasan untuk bersatu, mereka harus mempunyai hak kebebasan politik.
            Kebebasan politik tidak akan sertamerta membebaskan Rakyat pekerja dari kemiskinan, tetapi ia akan memberikan suatu senjata kepada kaum buruh untuk melawan kemiskinan. Tak ada cara lain dan tidak mungkin ada cara lain untuk melawan kemiskinan kecuali penyatuan kaum buruh itu sendiri. Tetapi jutaan Rakyat tak dapat bersatu jika tak ada kebebasan politik.
           Di semua negeri Eropa, di mana Rakyat telah memperoleh kebebasan politik, kaum buruh sudah mulai bersatu sejak lama. Di seluruh Eropa, kaum buruh yang tidak memiliki baik tanah, maupun bengkel-bengkel, yang bekerja seumur hidupnya untuk orang-orang lain untuk upah, dinamakan kaum proletar. Lebih lima puluh tahun yang lalu  telah diperdengarkan seruan bagi Rakyat pekerja supaya bersatu. “Kaum proletar semua negeri, bersatulah” – selama lima puluh tahun yang lalu kata-kata ini sudah didengungkan dan menggema di seluruh dunia, kata-kata itu diulangi dalam puluhan dan ratusan ribu rapat kaum buruh, dapat dibaca dalam jutaan brosur serta suratkabar Sosial-Demokrat dalam semua dan segala macam bahasa.
            Sudah barang tentu, mempersatukan jutaan kaum buruh dalam satu serikat, dalam satu partai adalah suatu tugas yang amat sangat sukar; ia menuntut waktu, menuntut ketekadan, keuletan serat keberanian. Kaum buruh ditindih oleh kemelaratan dan kemiskinan, dimatikan rasa mereka oleh kerja berat yang tak habis-habisnya untuk kaum kapitalis dan kaum tuan tanah; seringkali kaum buruh bahkan tak mempunyai waktu untuk berfikir apa sebabnya mereka tetap menjadi orang-orang miskin selama-lamanya, atau bagaimana supaya bebas dari kemiskinan ini. Segala-galanya dilakukan untuk mencegah kaum buruh menjadi bersatu; atau dengan jalan kekerasan secara langsung dan luas, seperti di negeri-negeri semacma Rusia di mana tak ada kebebasan politik, atau dengan menolak memperkerjakan  kaum buruh yang mengkhotbahkan ajaran Sosialisme, atau, akhirnya, dengan jalan tipudaya serta pengkorupan. Tetapi tak ada kekerasan, tak ada pengejaran yang dapat menahan kaum buruh proletar berjuang untuk tujuan agung membebaskan seluruh Rakyat pekerja dari  kemiskinan serta penindasan. Jumlah kaum buruh Sosial-Demokrat terus menerus bertambah besar. Ambillah negeri tetangga kita, Jerman; di sana mereka mempunyai pemerintah yang dipilih. Dulu di Jerman juga terdapat pemerintah monarki otokratis yang tak terbatas. Tetapi sudah lama, lebih dari lima puluh tahun yang lalu, Rakyat Jerman telah menghancurkan otokrasi serta memperoleh kebebasan politik dengan kekerasan. Di Jerman undang-undang tidak dibuat oleh beberapa gelintir amtenar, seperti di Rusia, tetapi oleh suatu majelis wakil-wakil Rakyat, oleh suatu parlemen, oleh  Reichstag, sebagaimana orang-orang Jerman menamakannya. Semua orang laki-laki yang sudah dewasa ambil bagian dalam memilih wakil-wakil untuk majelis ini. Ini memungkinkan orang menghitung berapa suara yang diberikan kepada kaun Sosial-Demokrat. Dalam tahun 1887 sepersepuluh  dari semua suara diberikan kepada kaum Sosial-Demokrat. Dalam tahun 1898 (pada waktu berlangsungnya pemilihan yang terakhir untuk Reichstag Jerman) suara Sosial-Demokrat naik hampir tiga kali. Kali ini lebih dari seperempat  dari semua suara diberikan kepada kaum Sosial-Demokrat.  Lebih dari dua juta orang laki-laki dewasa memilih calon-calon Sosial-Demokrat  untuk parlemen [*6]. Sosialisme belum merata-luas di kalangan kaum buruh-tani Jerman, tetapi sekarang sedang mencapai kejuan yang terutama cepat sekali di kalangan mereka. Dan apabila massa buruh-tani, buruh-tani harian, dan kaum tani miskin, bersatu dengan saudara-saudara mereka di kota-kota, maka kaum buruh Jerman akan menang dan akan menciptakan tata aturan-tata aturan di mana kaum pekerja tak akan menderita kemiskinan ataupun penindasan.
              Dengan jalan apakah kaum buruh Sosial-Demokrat hendak membebaskan Rakyat dari kemiskinan?
             Untuk mengetahui ini, orang harus mengerti dengan jelas sebab-musabab kemiskinan massa Rakyat yang mahaluas di bawah tata aturan masyarakat yang sekatang. Kota-kota kaya sedang tumbuh, toko-toko serta rumah-rumah yang mewah-mewah sedang didirikan, jalan-jalan keretaapi sedang dibangun,  segala macam mesin serta penyempurnaan sedang ditrapkan dalam industri, maupun dalam pertanian, tetapi jutaan Rakyat tetap dalam kemiskinan, terus bekerja seumur hidupnya hanya untuk memberikan nafkah yang cukup untuk hidup saja bagi keluarga-keluarga mereka. Itu belum semuanya: kian lama kian banyak orang yang menjadi penganggur. Baik di kota maupun di desa makin banyak orang yang samasekali tidak bisa mendapat pekerjaan apapun juga. Di desa-desa mereka kelaparan, di kota-kota mereka membesarkan barisan-barisan “orang-orang gelandangan” dan “orang-orang kere”, mereka menemukan tempat berlindung seperti binatang dalam gubuk-gubuk di  dalam  tanah di pinggir-pinggir kota, atau di kampung-kampung  kotor dan gudang-gudang di bawah tanah yang mengerikan, seperti yang di Pasar Chitrov di Moskwa.
              Bagaimanakah dapat begitu? Kekayaan serta kemewahan meningkat, namun jutaan dan berjuta-juta orang yang dengan kerja mereka menciptzkzn segala kekayaan ini tetap dalam kemiskinan dan kekurangan? Petani-petani mati kelaparan, kaum buruh berkeliaran menganggur, namun saudarag-saudagar mengekspor jutaan pud gandum dari Rusia ke negeri-negeri lain, pabrik-pabrik dan kilang-kilang ditutup karena barang-barang tak dapat dijual, tak ada pasar bagi barang-barang itu?
           Sebab dari kesemuanya ini, pertama-tama, yalah bahwa bagian amat besar dari tanah, dan juga pabrik-pabrik, mesin-mesin, gedung-gedung, kapal-kapal, dan lain-lainnya, adalah kepunyaan sejumlah kecil orang-orang kaya. Puluhan juta orang bekerja di atas tanah ini dan dalam pabrik-pabrik serta bengkel-bengkel itu, tetapi semuanya itu dimiliki  oleh beberapa ribu atau puluhan ribu orang kaya, tuan tanah, saudagar dan pemilik-pabrik. Orang-orang bekerja untuk orang-orang kaya tersebut untuk mendapatkan uang sewa, upah, satu potong roti. Semua yang dihasilkan lebih dan di luar apa yang dibutuhkan untuk memberikan nafkah yang cukup untuk hidup saja bagi kaum buruh, semuanya itu jatuh pada tangan pemilik-pemilik kaya; semuanya itu adalah laba mereka, “penghasilan” mereka. Segala keuntungan yang berasal dari penggunaan mesin-mesin serta dari penyempurnaan-penyempurnaan dalam cara-cara kerja jatuh pada tuan tanah-tuan tanah dan kaum kapitalis: mereka menimbun kekayaan yang tak tepermanai sedang kaum buruh hanya memperoleh remah-remah yang hina dari kekayaan ini. Kaum buruh dikumpulkan untuk bekerja; di perkebunan-perkebunan besar dan dalam pabrik-pabrik yang besar dipekerjakan beberapa ratus dan kadang-kadang malah beberapa ribu kaum buruh. Apabila kerja dipersatukan begini, dan apabila dipergunakan mesin-mesin yang sangat bermacam-macam, maka kerja itu menjadi lebih produktif; seorang buruh menghasilkan lebih banyak daripada puluhan buruh yang dulu bekerja sendiri-sendiri dan tanpa bantuan mesin-mesin apapun. Tetapi keuntungan-keuntungan dari kerja yang lebih menghasilkan, yang lebih produktif ini tidak jatuh pada semua kaum pekerja, tetapi pada sejumlah amat kecil tuan tanah-tuan tanah besar, pedagang-pedagang dan pemilik-pemilik pabrik.
                Orang sering mendengar bahwa katanya tuan tanah-tuan tanah dan saudagar-saudagar itu “memberi pekerjaan” bagi Rakyat, bahwa mereka “memberi” nafkah abagi kaum miskin. Katanya, misalnya, bahwa sebuah pabrik atau perusahaan seorang  tuan tanah tetangga “memberi hidup” pada petani-petani setempat. Akan tetapi, sebenarnya, kaum buruh dengan kerja mereka memberi hidup pada diri mereka sendiri dan juga pada semua yang tidak bekerja. Tetapi untuk izin bekerja di atas tanah tuan tanah, di dalam sebuah pabrik, atau pada kereta api, si buruh memberikan kepada si pemilik semua yang dihasilkan dengan cuma-cuma, sedang si buruh itu sendiri memperoleh hanya cukup untuk hidup saja.  Jadi sebenarnya, bukanlah tuan tanah-tuan tanah dan saudagar-saudagar yang memberi pekerjaan kepada kaum buruh, melainkan kaum buruhlah yang dengan kerja mereka memberi hidup pada setiap orang, menyerahkan bagian terbesar dari hasil-hasil kerja mereka dengan cuma-cuma.   
                Selanjutnya. Di semua negeri  modern kemiskinan Rakyat itu adalah karena kenyataan bahwa kaum pekerja menghasilkan segala macam barang untuk dijual, untuk pasar. Pemilik pabrik dan tukang, tuan tanah serta petani kaya menghasilkan barnga-barang ini atau itu, memelihara ternak, menanam serta memaneni padi-padian untuk dijual, untuk mendapatkan uang.  Di mana-mana uang telah menjadi kekuatan yang utama. Semua dan segala macam barang yang dihasilkan oleh kerja manusia dipertukarkan untuk uang. Dengan uang orang dapat membeli apa saja yang dikehendaki. Dengan uang orang dapat membeli manusia pun, artinya, memaksa orang yang tidak memiliki apa-apa bekerja untuk orang lain yang mempunyai uang. Dulunya, tanah yang merupakan kekuatan yang utama – begitulah halnya di bawah sistim penghambaan; barang siapa memiliki tanah ia memiliki kekuatan serta kekuasaan. Akan tetapi kini uang, kapitallah yang menjadi kekuatan utama. Dengan uang orang dapat membeli tanah sebanyak yang dia suka. Tanpa uang orang tak akan dapat berbuat banyak biarpun dia mempunyai tanah: orang harus mempunyai uang untuk membeli sebuah bajak atau perkakas lainnya, untuk membeli ternak, membeli pakaian dan barang-barang bikinan-kota lainnya, apalagi untuk membayar pajak. Karena untuk uang hampir semua tuan tanah telah menghipotikkan tanah mereka kepada bank-bank. Untuk memperoleh uang pemerintah meminjam kepada orang-orang kaya dan bankir-bankir di seluruh dunia, dan setiap tahunnya membayar ratusan juta rubel sebagai bunga dari pinjaman-pinjaman itu.
              Karena uang kini setiap orang melakukan perang yang sengit terhadap setiap orang lainnya. Masing-masing berusaha membeli murah dan menjual mahal, masing-masing berusaha menyaingi yang lain, berusaha menjula lebih banyak barang-barang, menjatuhkan harga, menyembunyikan dari yang lain pasar yang memberi laba atau kontrak yang menguntungkan. Dalam perebutan umum untuk uang ini orang-orang kecil, tukang-tukang kecil atau petani-petani kecil, berada di dalam keadaan yang lebih buruk dari semuanya: mereka selalu kalah disaingi oleh saudagar besar atau petani kaya. Mereka itu tak pernah mempunyai serap apapun juga; mereka hidup dari tangan ke mulut; sekali saja mendapat kesukaran, sekali saja mendapat kecelakaan, mereka sudah terpaksa menggadaikan harta bendanya yang penghabisan dan menjual hewan penarinya dengan harga yang tiada berarti. Sekali mereka jatuh ke dalam cengkeraman seorang kulak atau seorang lintah darat, maka jarang sekali mereka berhasil meloloskan diri dari cengkeraman itu dan dalam kebanyakan hal menjadi bangkrut samasekali. Setiap tahun puluhan dan ratusan ribu petani dan tukang-tukang kecil mengunci pondok-pondok mereka, menyerahkan tanah pembagian mereka kepada komune desa dan menjadi kaum buruh-upahan, buruh tani, buruh tak ahli, kaum proletar. Tetapi kaum kaya makin bertambah kaya dalam perjuangan untuk uang itu. Orang kaya menumpuk jutaan dan ratusan juta Rubel dalam bank-bank dan mendapat laba tidak hanya dengan uang mereka sendiri tapi juga dengan uang yang dititipkan dalam bank-bank oleh orang lain.  Orang kecil yang menitipkan puluhan atau beberapa ratus Rubel dalam sebuah bank atau sebuah bank tabungan mendapat bunga sebanyak tiga atau empat kopek untuk setiap Rubel;  tetapi kaum kaya menarik jutaan dari puluhan itu dan menggunakan jutaan tersebut untuk memperluas perputarannya dan mendapat bungan sepuluh atau duapuluh kopek untuk setiap Rubel.
              Itulah sebabnya maka kaum buruh Sosial-Demokrat mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri kemiskinan Rakyat yalah merobah tata aturan-tata aturan yang ada dari atas sampai ke bawah, di seluruh negeri, dan mendirikan susunan sosialis: dengan kata-kata lain, mengambil tanah dari pemilik-pemilik tanah besar, mengambil pabrik-pabrik dari pemilik-pemilik pabrik, kapital uang dari bankir-bankir, menghapuskan milik perseorangan mereka dan menyerahkannya kepada seluruh Rakyat pekerja di seluruh negara. Apabila hal ini dilakukan maka kerja kaum buruh sudah tidak akan dipergunakan lagi oleh kaum kaya yang hidup atas kerja orang lain, tetapi oleh kaum buruh itu sendiri dan oleh orang-orang yang mereka pilih. Kalau demikian, maka hasil-hasil kerja bersama dan keuntungan-keuntungan yang dibawa oleh segala penyempurnaan dan mesin-mesin akan menguntungkan semua kaum pekerja, semua kaum buruh. Kekayaan akan bertambah besar dengan lebih cepat lagi sebab,  dengan bekerja untuk diri mereka sendiri, kaum buruh akan bekerja lebih baik daripada jika mereka bekerja untuk kaum kapitalis, hari kerja akan lebih pendek,  taraf hidup kaum buruh akan menjadi lebih tinggi, dan segala keadaan hidup mereka akan berobah sama sekali.
             Tetapi mengubah tata aturan yang ada di seluruh negeri bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini menuntut banyak usaha, menuntut suatu perjuangan yang lama dan tekum. Segenap kaum kaya, segenap pemilik harta, segenap burjuasi akan mempertahankan kekayaan mereka dengan sekuat tenaga mereka. Para amtenar dan tentara akan bangkit membela seluruh klas kaya, sebab pemerintah itu sendiri berada dalam tangan klas kaya. Kaum buruh harus berpadu sebagai satu orang untuk berjuang menentang semua orang yang hidup atas kerja orang lian; kaum buruh sendiri harus bersatu dan membantu mempersatukan semua yang takbermilik dalam satu klas buruh, dalam satu klas proletariat. Bagi klas buruh perjuangan itu tak akan mudah, tetapi perjuangan itu pasti akan berakhir dengan kemenangan kaum buruh, sebab burjuasi, yaitu orang-orang yang hidup atas kerja orang lain, adalah suatu minoritas yang samasekali tak berarti dari penduduk. Sedang klas buruh merupakan mayoritas Rakyat yang mahabesar. Kaum buruh menentang pemilik-pemilik harta berarti jutaan menentang ribuan.
              Dan kaum buruh di Rusia sudah mulai bersatu untuk perjuangan besar ini di dalam satu Partai Buruh Sosial-Demokrat. Kendatipun sulit untuk bersatu secara rahasia, bersembunyi-sembunyi dari polisi, namun, penyatuan itu sedang makin tumbuh dan menjadi kuat. Dan apabila Rakyat Rusia sudah memperoleh kebebasan politik, maka urusan penyatuan klas buruh, urusan Sosialisme, akan maju dengan jauh lebih cepat, lebih cepat daripada kemajuannya di kalangan kaum buruh Jerman.


Catatan:
[*1] Di sini dan selanjutnya dan juga pada halaman-halaman 14, 18 kata-kata “Duma Negara” dalam terbitan tahun 1905 diganti dengan kata-kata “Dewan Perwakilan Rakyat” – Red.
[*2] Dalam terbitan tahun 1905, sesudah kata “dipecat” ditambahkan teks berikut:”Siapa yang mengumumkan perang dengan orang-orang Jepang? Pemerintah. Adakah Rakyat ditanya tentang kemauan mereka berperang untuk merebut wilayah Masyuria? Tidak, tidak ditanya karena kepala negara memerintah Rakyat lewat amtenar-amtenarnya. Dan nah, Rakyat, karena dosa pemerintah, telah dibangkrutkan oleh peperangan yang berat itu. Ratusan ribu serdadu-serdadu yang muda telah gugur, keluarga-keluarganya dibangkrutkan, seluruh front Rusia mengalami kemalangan, pasukan-pasukan Rusia diusir dari Mansyuria; peperangan telah menelan lebih dari dua ribu juta Rubel (dua ribu juta Rubel! Kalau dibagi, maka ini sama dengan seratus Rubel untuk setiap dari dua puluh juta keluarga di Rusia). Rakyat tidak memerlukan wilayah Mansyuria. Rakyat tidak mengingini peperangan. Sedang pemerintah kaum birokrat yang memerintah Rakyat menurut kehendaknya sendiri memaksa Rakyat menjalankan peperangan yang memalukan, yang mendatangkan maut dan membangkrutkan itu” – Red.
[*3]  Dalam terbitan tahun 1905, sesudah kata-kata “seperti lalat” ada catatan berikut:” kekuasaan yang tak terbagi dari amtenar-amtenar demikian disebut pemerintahan birokratis, dan semua kaum amtenar dalam keseluruhannya disebut birokrasi” – Red.
[*4] Dalam terbitan tahun 1905 sesudah kata-kata "kebebasan politik" dimasukkan teks sebagai berikut:
  “Pemerintah sudah berjanji memanggil wakil-wakil Rakyat untuk bersidang dalam bentuk Duma Negara. Akan tetapi dengan berkedok janji-janji ini pemerintah sekali lagi menipu Rakyat. Di bawah kedok Duma Negara ia mau memanggil bukan wakil-wakil sejati dari Rakyat, melainkan para amtenar, bangsawan, tuantanah dan pedagang-pedagang yang terpilih khusus. Wakil-wakil Rakyat seharusnya dipilih bebas, sedangkan pemerintah tidak mengijinkan pemilihan bebas, menutup surat kabar-surat kabar kaum buruh, melarang orang berapat dan berkumpul, mengejar Serikat Tani, menangkap dan menjbloskan ke dalam penjara orang-orang yang dipilih oleh kaum tani. Apakah pemilihan dapat  sungguh-sungguh bebas, jika polisi dan penjabat-penjabat Zemstwo seperti dulunya terus menganiaya kaum buruh dan kaum tani?
Wakil-wakil Rakyat harus dipilih dari seluruh Rakyat dengan samarata, supaya kaum bangsawan, tuantanah dan pedagang-pedagang jangan memperoleh keunggulan atas  kaum  buruh dan kaum tani.  Bangsawan-bangsawan  dan  pedagang-pedagang, beribu-ribu jumlahnya, sedangkan kaum tani meliputi berjuta-juta. Sedangkan di bawah kedok Duma Negara pemerintah memanggil suatu sidang Dewan untuk mana pemilihan-pemilihan bukan samarata. Pemerintah telah mengadakan pemilihan-pemilihan yang begitu licin sehingga bangsawan-bangsawan dan pedagang-pedagang akan mendudki hampir semua kursi di Duma itu, sedangkan kaum buruh dan kaum tani akan tidak mempunyai bahkan satu wakil di antara sepuluh mereka yang akan duduk di sana. Duma ini adalah Duma palsu. Itu adalah Duma polisi. Itu adalah Duma amtenar-amtenar dan bangsawan-bangsawan. Untuk Dewan Perwakilan Rakyat yang sejati diperlukan pemilihan-pemilihan di kalangan seluruh Rakyat dengan sama rata. Itulah sebanya kaum buruh Sosial-Demokrat menyatakan: Enyahlah Duma! Enyahlah Dewan yang di buat-buat! Kami membutuhkan Konstituante seluruh Rakyat dan bukan kaum bangsawan dan pedagang-pedagang! Kami butuhkan Konstituante seluruh Rakyat supaya bukan kaum amtenar berkuasa atas Rakyat melainkan Rakyatlah menjadi berkuasa penuh atas kaum amtenar!”— Red.
[*5]  Dalam terbitan tahun 1905, sesudah kata “parlemen” dimasukkan teks sebagai berikut:”Dalam tahun 1903 tiga juta orang laki-laki sewasa memilih calon-calon Sosial-Demokrat”— Red.
[*6] Burjuis berarti seorang pemilik harta. Burjuasi ada semua pemilik-harta diambil keseluruhannya. Seorang burjuis besar berarti pemilik harta besar. Seorang burjuis kecil berarti seorang pemilik harta kecil. Kata-kata burjuasi dan proletariat berarti kaum pemilik harta dan kaum buruh, kaum kaya dan kaum miskin, atau orang-orang yang hidup atas kerja orang lain dan orang-orang yang bekerja untuk orang lain untuk upah.


Sumber: KEPADA KAUM MISKIN DESA / 1903, BAB 2 
More aboutAPA YANG DIKEHENDAKI KAUM SOSIAL-DEMOKRAT?